Oleh: Aruna Fajria Ramadhani Latief, Santri-Murid Kelas XI Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO asal Pekalongan

Ingin rasanya aku mengeluarkan semua emosi yang sejak tadi terpendam. Di dalam sunyinya malam yang memilukan, di tengah dinginnya rumah yang biasanya hangat, aku berusaha agar dapat mengeluarkan semua emosiku yang tertahan.

“Laailaaha illallaah, Laailaaha illallaah, Laailaaha illallaah.”

Aku meremas rambutku kuat-kuat.

Tulang punggung rumah kecil ini telah pulang.

Jantungku berdetak lebih cepat, tanganku gemetar luar biasa. Rasanya aku hancur sehancur-hancurnya.

Wajah Ibu, yang biasanya memancarkan cahaya yang tenang, kini muram seperti gerimis tak tertahankan. Tak mereda, tidak juga mengamuk. Air matanya bak aliran sungai yang tenang namun memilukan.

Memoriku kembali pada waktu aku masih di perjalanan. Ibu tak menjelaskan apa-apa di dalam telepon, hanya menyuruhku pulang bersama keluarga besar ibuku. Tapi, aku bukan anak SD. Ucapan ibu sudah jelas mengabarkan duka, apalagi dengan suara tangis adikku yang paling kecil. Sudah seperti suara air terjun.

Earphone-ku terus bernyanyi pelan di gendang telingaku.

Badanku remuk, sudah seperti kaca yang pecah di dalam bingkainya. Air mataku seakan kering tak keluar. Tubuhku lunglai di atas kasur.

Aku tahu tanda apa ini. Pasti terjadi.

Aku akan mengalami ledakan emosi di kemudian hari.