Pemuda adalah salah satu tonggak utama dalam sejarah Indonesia. Sebagai pemuda Indonesai perlu ditegaskan bahwa kita akan melakukan perubahan bagi Indonesia. Karena itu, dalam rangka memeringati Hari Sumpah Pemuda (HSP) pada 28 Oktober 2020 sebaiknya kita menjadi pemuda yang “kepo” dan “baperan”, alias ingin tahu dan berperasaan yang berarti lebih positif. Yakni, dapat membawa perubahan. Kita generasi muda harus menjadi pembawa perubahan bagi negeri tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kami putra putri Indonesia mengaku,

Bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.

Kami putra putri Indonesia mengaku,

Berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.

Kami putra putri Indonesia,

Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

***

Berteman segelas kopi panas dan asap yang begitu wangi, kakekku membuka lembaran pertamanya pada koran pagi. Kulit yang keriput dan rambut yang putih seolah-olah memamerkan bahwa dirinya tak muda lagi. Masih asyik saja beliau menyesap minuman berkafein dan sepuntung rokok surya.

Tidak habis pikir pemuda zaman sekarang menghalalkan segala cara untuk melakukan yang sia-sia. Mabuk dan mencuri di mana-mana serta melakukan perzinahan,” gelegar suara kakek sembari masih membuka selembar demi lembaran koran yang ia baca. Tidak lama kemudian, kakek saya terkekeh sambil bertepuk tangan, seperti terdapat lelucon di bagian koran tersebut. Dan kakek saya pun berkata: “Sudah tidak ada lagi peperangan. Tidak ada lagi bambu runcing. Bahkan, tidak ada lagi bunuh membunuh. Kakek sudah melalui itu semua.” Saya pun dengan tertegun mendengarkan semua ucapan kakek. Sejurus kemudian, saya menimpali: “Berarti pada zaman dahulu kakek adalah seorang pembunuh?” sontak, kakek tertawa sejadi-jadinya. “Ngawur! Bukan seorang pembunuh. Justru Kakek merupakan salah satu mantan pahlawan Indonesia menjelang merdeka. Kakekmu veteran,” jawab kakek tegas.

Kakek tidak menyerah untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Kakek sangat mengharapkan pemuda-pemudi atau penerus bangsa ini cerdas menjaga diri. Menjaga diri dari penjajahan oleh negeri sendiri.

Kalian hanya harus mempertahankan negeri ini. Jadi jangan malah mengadu domba rakyat kecil dengan kaum kapitalis, orang-orang besar yang berkepentingan. Apakah kalian tahu seperti apa perjuangan kami di masa silam? Rela berkorban demi memperjuangkan negeri ini dan sampai bermandikan peluh dan darah. Hahaha,” kakek mengakhiri pesan padatnya dengan tawa khasnya. Kakek lanjut menyesap kopi dan sepuntung rokok yang sudah tinggal beberapa isapan.

Saat ini kalian hanya penikmat kemerdekaan. Tidak paham sejarah dan sulit memaknai kerasnya hidup di era penjajahan. Seharusnya kalian bangga menjadi pemuda yang berada pada masa ini. Mencari dan mendapatkan makanan mudah serta bisa bersenang-senang. Jangan menjadi generasi yang menyusahkan!” kakek kembali menyampaikan semua pesannya. Kali ini dengan nada cukup serius. Sela beberapa menit, kakek menutup korannya. Kakek mengelus kepalaku dan berkata: “Kamu adalah bagian dari pemuda yang kakek tertawakan. Kamu juga yang menjadi bagian dari pemuda yang kakek maksudkan. Kamu, bagian dari pemuda yang kakek harapkan.

“Selamat Hari Sumpah Pemuda. Selamat melanjutkan perjuangan, Kawans.” Wallahu a’lam bi al-shawwab.

Oleh: Nabil al Hafiz EntedingSantri Remaja (Sanja) Planet NUFO Mlagen, Rembang asal Gorontalo