Oleh: Ida Ariyani, M.Sos., Waka Kesiswaan SMP Alam Nufo, Dosen Universitas Terbuka dan STAINU Rembang

Pendahuluan: Cerdas, Kaya, dan Berkuasa sebagai Cita-Cita Bersama

Pondok Pesantren dan Sekolah Alam Nurul Furqon, yang lebih dikenal dengan sebutan Planet Nufo, mengusung visi besar yang terangkum dalam jargon “Cerdas, Kaya, Berkuasa”. Visi tersebut bukan sekadar slogan, melainkan arah kebijakan yang menuntun seluruh program pendidikan di lembaga ini. Nama “Nurul Furqon” sendiri dekat maknanya dengan kata “haskalah”, yang dalam khazanah keilmuan berarti pencerahan. Filosofi ini menegaskan bahwa tujuan akhir pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan transformasi peserta didik agar mampu keluar dari dua bentuk kegelapan yang paling banyak membelenggu umat manusia, yaitu kebodohan dan kemiskinan.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Planet Nufo merancang berbagai program yang saling menopang satu sama lain. Salah satu gagasan yang paling sering ditekankan oleh pendiri sekaligus pengasuh Planet Nufo, Dr. Mohammad Nasih, M.S.I., adalah cara pandang yang tidak lazim dalam dunia pendidikan konvensional, yakni guru harus menjadi pengusaha agar murid-muridnya kelak juga mampu menjadi pengusaha. Gagasan ini merupakan implementasi dari perpaduan antara school (sekolah) dan skill (keterampilan), dua unsur yang oleh Dr. Nasih diibaratkan sebagai yin dan yang dalam dunia pendidikan, saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

Jika ditelaah lebih jauh, kata “kaya” dan “berkuasa” dalam jargon tersebut tidak dimaknai secara sempit sebagai penumpukan harta atau jabatan semata, melainkan sebagai kapasitas untuk mandiri secara ekonomi sekaligus memiliki daya tawar dalam pengambilan keputusan, baik pada level pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Kemandirian ekonomi inilah yang menjadi jembatan antara idealisme keagamaan dengan realitas kehidupan sehari-hari, sebab tanpa kemandirian ekonomi, cita-cita pencerahan intelektual dan spiritual mudah sekali goyah oleh tekanan kebutuhan hidup.

Landasan Filosofis: Ketika Sekolah Tidak Cukup Hanya Mengajar

Pendidikan formal di Indonesia sering kali dianggap gagal ketika hanya berhenti pada penguasaan teori tanpa memberi ruang bagi peserta didik untuk benar-benar mengalami proses produksi, pengelolaan usaha, dan pengambilan keputusan ekonomi secara langsung. Inilah benang kusut yang ingin diurai oleh Planet Nufo melalui konsep dasar sekolah alam, yaitu belajar melalui pengalaman langsung atau experiential learning. Dengan pendekatan ini, keseimbangan antara school dan skill diharapkan dapat berjalan secara organik, bukan sekadar tempelan kegiatan ekstrakurikuler.

Semangat menyatukan ilmu dan keterampilan hidup ini sesungguhnya memiliki akar teologis yang kuat. Jejak para nabi dan rasul menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi produktif, khususnya perniagaan dan peternakan, bukanlah pekerjaan yang bertentangan dengan kesalehan, melainkan justru bagian dari keteladanan hidup. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dikenal luas sebagai pedagang sekaligus penggembala kambing pada masa mudanya. Pertanyaan yang kerap muncul kemudian adalah dari mana spirit bertani turut diwariskan, mengingat konteks Jazirah Arab lebih identik dengan perniagaan dan penggembalaan dibanding bercocok tanam.

Dr. Mohammad Nasih, M.S.I., yang juga dikenal sebagai pemerhati keislaman dan politik, menjelaskan hal ini melalui sebuah hadis riwayat Imam Bukhari yang menyinggung keutamaan bekerja dengan hasil jerih payah sendiri, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Allah Dawud alaihissalam yang memakan makanan dari hasil karya tangannya sendiri. Semangat kemandirian yang dicontohkan Nabi Dawud inilah yang menjadi inspirasi bagi warga Planet Nufo untuk berupaya mewujudkan swasembada pangan di lingkungan pesantren, sekaligus menegaskan bahwa produksi pangan mandiri adalah bagian integral dari keteladanan para nabi, bukan sekadar aktivitas ekonomi biasa.

Bukti Empiris Keseimbangan School dan Skill

Klaim keseimbangan antara school dan skill tentu memerlukan bukti yang terukur, bukan sekadar retorika. Pada aspek school, kemampuan akademik Pondok Pesantren dan SMP Alam Nufo telah terverifikasi melalui hasil Tes Kemampuan Akademik atau TKA, di mana lembaga ini berhasil meraih peringkat ketiga tertinggi se-Kabupaten Rembang sekaligus menjadi sekolah dengan capaian akademik terbaik di antara sekolah-sekolah yang bernaung di bawah pondok pesantren di wilayah tersebut. Pencapaian ini menegaskan bahwa pola pendidikan berbasis pengalaman yang diterapkan Planet Nufo tidak mengorbankan mutu akademik, bahkan sebaliknya, mampu bersanding dengan sekolah-sekolah formal pada umumnya.

Namun demikian, pencapaian akademik semacam ini idealnya harus sepadan dengan penguasaan keterampilan hidup (skill) yang terukur secara konkret. Ukuran yang digunakan Planet Nufo bukan sekadar sertifikat pelatihan, melainkan kemampuan nyata di bidang pertanian, peternakan, dan perniagaan yang menghasilkan nilai ekonomi riil. Dengan kata lain, murid Planet Nufo dituntut mampu menghasilkan uang dari jerih payah pengasahan keterampilan mereka sendiri, sebuah indikator yang jauh lebih sulit dicapai dibanding sekadar nilai ujian tertulis.

Tuntutan ini sejalan dengan berbagai temuan riset pendidikan kewirausahaan di lingkungan pesantren di Indonesia. Sejumlah kajian pemberdayaan santri melalui program agropreneurship dan hidroponik di berbagai pesantren, misalnya di Ecopesantren Ittifaq Bandung serta beberapa pesantren di Jawa Timur, secara konsisten melaporkan bahwa pendidikan kewirausahaan berbasis praktik lapangan berkontribusi nyata terhadap kemandirian ekonomi santri, pembentukan sikap kewirausahaan, serta penguatan kepercayaan diri peserta didik. Salah satu kajian bahkan menegaskan bahwa sikap kewirausahaan berperan dominan dalam membentuk minat berwirausaha santri, lebih besar dibanding pengaruh langsung materi pendidikan kewirausahaan itu sendiri. Temuan ini mengonfirmasi bahwa keterlibatan langsung dalam praktik produksi, bukan sekadar teori di kelas, adalah kunci keberhasilan pendidikan skill di lingkungan pesantren, sebuah prinsip yang sejalan dengan pendekatan yang ditempuh Planet Nufo.

Kelompok Tani Santri Mandiri Sejahtera: Menata Ulang Akar yang Rapuh

Berangkat dari kerangka filosofis dan kebutuhan akan bukti empiris tersebut, Planet Nufo membentuk akar baru bernama Poktan, singkatan dari Kelompok Tani Santri Mandiri Sejahtera atau yang lebih sering disebut Poktan. Pembentukan akar baru ini merupakan respons atas akar lama yang dinilai tidak lagi bekerja secara optimal, sehingga diperlukan pembaruan struktur, sumber daya manusia, dan pendekatan teknis sekaligus.

Poktan Planet Nufo dikomandoi oleh Mirwan Purnama, seorang agronomis lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang membawa kompetensi dan pengalaman di bidang agrobisnis untuk mengelola lahan seluas sepuluh hektare milik pesantren. Kehadiran tenaga ahli dengan latar belakang akademik agronomi ini menjadi pembeda penting dibanding pengelolaan pertanian berbasis coba-coba, karena setiap keputusan teknis, mulai dari pemilihan media tanam hingga penanganan hama, didasarkan pada prinsip ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Struktur keanggotaan Poktan melibatkan seluruh warga Planet Nufo, dengan guru diposisikan sebagai unsur penggerak sekaligus pelaksana lapangan. Penempatan guru pada posisi strategis ini selaras dengan tabiat guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru oleh murid, sehingga guru dituntut untuk lebih dahulu berdaya secara ekonomi dan teknis sebelum menuntut hal yang sama dari murid-muridnya. Pada sisi lain, keterlibatan guru juga mempermudah kinerja Poktan dalam mengintegrasikan aktivitas pendidikan formal dengan praktik agrobisnis dan agroedukasi modern secara simultan, tanpa harus memisahkan jam belajar di kelas dengan jam praktik di lahan.

Hasil yang diharapkan dari keberadaan Poktan sudah sangat jelas dirumuskan, yakni mendongkrak keterampilan bertani seluruh warga pesantren, memenuhi kebutuhan pangan internal secara mandiri, sekaligus menggerakkan roda perekonomian di sektor pangan. Ketiga capaian ini pada akhirnya diproyeksikan menjadi kontribusi nyata terhadap realisasi visi besar Planet Nufo, yaitu cerdas, kaya, dan berkuasa, dalam pengertian yang produktif dan bertanggung jawab.

Tantangan Lahan Tadah Hujan: Data dan Realitas di Rembang

Salah satu tantangan terberat yang dihadapi Poktan bukanlah persoalan semangat atau sumber daya manusia, melainkan karakter geografis Kabupaten Rembang yang sebagian besar mengandalkan sistem pertanian tadah hujan. Lahan tadah hujan secara definitif adalah lahan yang ketersediaan airnya sepenuhnya bergantung pada curah hujan alami, tanpa dukungan irigasi permanen. Karakteristik ini menjadikan lahan tadah hujan sangat rentan terhadap kekeringan, terutama pada musim kemarau, sehingga umumnya hanya dapat ditanami satu hingga dua kali dalam setahun.

Data dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian menunjukkan bahwa produktivitas padi pada lahan sawah tadah hujan secara nasional hanya berkisar antara 1,8 hingga 3,5 ton per hektare, jauh di bawah produktivitas lahan sawah beririgasi teknis. Rendahnya produktivitas ini diperparah oleh sejumlah masalah klasik seperti serangan gulma, hama, dan penyakit tanaman, ditambah pola kepemilikan lahan yang cenderung sempit dan terfragmentasi. Kabupaten Rembang sendiri, bersama Blora, Jepara, dan Wonogiri, secara resmi tercatat sebagai salah satu wilayah di Jawa Tengah yang menjadi fokus pemantauan pemerintah provinsi terkait potensi kekeringan ekstrem dan risiko gagal panen, mengingat wilayah ini masih sangat bergantung pada sistem tadah hujan.

Menghadapi kondisi tersebut, para ahli pertanian umumnya merekomendasikan strategi adaptif seperti pemanenan air hujan melalui embung, penggunaan benih varietas unggul yang tahan kekeringan, serta pengaturan pola tanam yang disesuaikan dengan ketersediaan air. Prinsip inilah yang menjadi rujukan tim Poktan Planet Nufo dalam menyusun ulang strategi pertanian di lahan pesantren, dengan penyesuaian teknis yang lebih ringkas dan aplikatif mengingat keterbatasan infrastruktur irigasi berskala besar.

Observasi dan Diagnosis: Mengurai Akar Kegagalan Proyek Terdahulu

Kegiatan Poktan berjalan setiap hari sejak resmi berdiri pada tanggal 30 Juni 2026. Tahapan pertama yang ditempuh adalah observasi menyeluruh terhadap kegagalan proyek pertanian yang pernah dijalankan sebelumnya. Kehadiran tenaga ahli agronomis mempermudah proses identifikasi masalah sekaligus penyusunan ulang perencanaan proyek pertanian di lingkungan Planet Nufo secara lebih sistematis.

Hasil observasi lapangan menemukan tiga persoalan utama. Pertama, kondisi tanah yang tidak subur sehingga berbagai varietas sayur dan buah tidak dapat tumbuh atau berbuah secara maksimal. Kedua, pemberian nutrisi tanaman yang tidak tepat takaran maupun waktunya, sehingga hasil panen yang diperoleh tidak berkualitas baik dari sisi kuantitas maupun mutu. Ketiga, penanganan hama dan penyakit tanaman yang tidak dilakukan secara tuntas, sehingga terus-menerus mengganggu pertumbuhan dan menekan hasil panen. Tiga temuan ini menjadi peta jalan bagi seluruh tahapan perbaikan yang dilakukan sesudahnya.

Inovasi Galonisasi: Solusi Teknis untuk Musim Kemarau

Tahapan kedua adalah penyiapan ulang media tanam. Seluruh media tanam yang dinilai tidak layak atau tidak produktif dirombak total, sementara tanah yang tandus dibiarkan untuk sementara waktu tidak diolah. Tim ahli kemudian merancang strategi khusus yang disesuaikan dengan karakter musim kemarau pada lahan tadah hujan di Rembang, yaitu melalui proses yang dinamai galonisasi, sebuah pendekatan menggunakan galon bekas air minum sebagai media tanam alternatif. Galon bekas tersebut dipotong menjadi dua bagian untuk kemudian difungsikan sebagai wadah tanam padi dan sayuran.

Pendekatan galonisasi ini secara prinsip sejalan dengan semangat pertanian berbasis wadah terkontrol atau container farming yang telah banyak diterapkan pada program-program agropreneurship pesantren di Indonesia, misalnya melalui sistem hidroponik sederhana yang memanfaatkan instalasi murah dan mudah direplikasi. Berbagai kajian pemberdayaan santri melalui budi daya sayuran dalam wadah terkontrol menunjukkan bahwa pendekatan semacam ini efektif menjawab keterbatasan lahan produktif sekaligus keterbatasan air, dua persoalan yang justru menjadi tantangan utama di lahan tadah hujan seperti yang dihadapi Planet Nufo. Selain menghemat penggunaan air dibanding sistem tanam konvensional di tanah terbuka, media tanam dalam wadah tertutup seperti galon juga mempermudah kontrol terhadap nutrisi dan serangan hama, sehingga selaras dengan dua dari tiga akar masalah yang ditemukan pada tahap observasi.

Langkah ketiga adalah penguatan tim kerja dengan menambahkan tenaga tukang sebagai bagian dari struktur pelaksana. Penambahan ini didasari pertimbangan bahwa anggota inti Poktan lebih difokuskan untuk dilatih dan dipandu dalam meracik mikroba, nutrisi tanaman, serta obat pembasmi hama berbahan alami, sehingga tugas-tugas teknis lain seperti menyiapkan galon, tanah, pupuk, dan sekam untuk media tanam diserahkan sepenuhnya kepada tenaga tukang. Pembagian tugas ini mencerminkan prinsip efisiensi kerja tim, di mana keahlian khusus difokuskan pada aspek yang membutuhkan presisi ilmiah, sementara pekerjaan fisik pendukung didelegasikan kepada tenaga yang lebih sesuai.

Langkah selanjutnya adalah proses pembibitan. Berbagai jenis benih disiapkan dan menjalani perlakuan khusus (treatment) agar bibit dapat tumbuh lebih cepat sekaligus memiliki sistem perakaran yang kuat. Perlakuan tersebut meliputi pemberian nutrisi secara rutin setiap pagi dan sore hari. Hasil dari perlakuan ini cukup menggembirakan, sebab dalam kurun waktu tiga hari, seluruh bibit yang disemai telah berkecambah, bahkan sebagian di antaranya sudah menampakkan daun pertama. Capaian ini menjadi indikator awal bahwa perbaikan pada media tanam dan pola pemberian nutrisi berhasil menjawab dua dari tiga persoalan yang ditemukan pada tahap observasi di awal proyek.

Proyeksi Dampak: Dari Lahan Pesantren Menuju Kemandirian Ekonomi Santri

Selain aspek teknis budi daya, keberadaan Poktan juga perlu dilihat dari perspektif dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter dan kemandirian ekonomi santri. Berbagai penelitian tentang pendidikan kewirausahaan di lingkungan pesantren secara konsisten menunjukkan bahwa program berbasis praktik lapangan, seperti budi daya sayuran organik maupun sistem hidroponik, tidak hanya meningkatkan kapasitas kewirausahaan santri, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan ekonomi yang berkelanjutan di lingkungan pesantren itu sendiri. Meski demikian, kajian yang sama juga mengingatkan bahwa keterbatasan dana dan akses pasar kerap menjadi tantangan yang memerlukan dukungan lebih lanjut, baik dari lembaga internal maupun pihak eksternal seperti pemerintah daerah.

Belajar dari catatan tersebut, Planet Nufo tampaknya menempuh jalan yang sedikit berbeda dengan menempatkan guru, bukan hanya santri, sebagai pelaksana inti Poktan. Pendekatan ini memiliki keunggulan tersendiri, sebab guru pada umumnya memiliki jaringan sosial dan kapasitas manajerial yang lebih matang dibanding santri yang masih dalam proses pembelajaran, sehingga persoalan akses pasar dan pengelolaan dana berpotensi lebih mudah diatasi. Di sisi lain, keterlibatan guru sebagai pelaksana lapangan juga menegaskan pesan implisit bahwa pendidikan kewirausahaan bukan sekadar materi yang diajarkan dari atas ke bawah, melainkan budaya kerja yang dijalani bersama oleh seluruh unsur pesantren, dari pengasuh, guru, hingga murid.

Dari sisi kelembagaan pendidikan Islam secara nasional, tren pengembangan program kewirausahaan berbasis pertanian di pesantren juga menunjukkan arah yang serupa. Sejumlah pesantren agropreneur di berbagai daerah telah membuktikan bahwa integrasi antara kurikulum keagamaan dengan praktik budi daya tanaman dan pengolahan hasil pertanian mampu menjadikan pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat, tidak hanya sebagai pusat dakwah dan transfer ilmu keagamaan semata. Data-data semacam ini memperkuat argumen bahwa langkah Planet Nufo membentuk Poktan bukanlah eksperimen yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari gerakan yang lebih luas di kalangan pesantren modern di Indonesia dalam merespons tantangan kemandirian ekonomi umat.

Jika proyeksi ini berjalan sesuai rencana, sepuluh hektare lahan yang dikelola Poktan berpotensi menjadi laboratorium hidup bagi seluruh warga Planet Nufo untuk mempraktikkan secara langsung siklus produksi pangan, mulai dari pembibitan, perawatan, panen, hingga pemasaran hasil. Proses ini secara tidak langsung juga menjadi sarana pendidikan karakter, sebab murid dan guru sama-sama dituntut untuk disiplin, sabar menghadapi kegagalan panen, serta jujur dalam mengelola hasil usaha bersama, nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip kejujuran dan amanah yang menjadi rujukan etika kewirausahaan dalam tradisi pendidikan pesantren.

Penutup: Merajut Harapan dari Akar yang Baru

Kehadiran Poktan Santri Mandiri Sejahtera menegaskan bahwa Planet Nufo tidak sekadar berhenti pada perumusan visi besar, melainkan menindaklanjutinya dengan langkah-langkah teknis yang terukur, berbasis data, dan melibatkan tenaga ahli yang kompeten di bidangnya. Perpaduan antara landasan teologis, semangat kemandirian ala Nabi Dawud alaihissalam, capaian akademik yang telah teruji melalui TKA, serta pendekatan agronomis modern seperti galonisasi menjadi bukti bahwa keseimbangan antara school dan skill bukan sekadar jargon, melainkan proses yang terus diperjuangkan dari waktu ke waktu.

Tentu saja, proyek ini masih berada pada tahap awal dan akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tahapan-tahapan berikutnya, mulai dari masa tanam, perawatan, hingga panen dan distribusi hasil, akan menjadi ujian sesungguhnya bagi keberlanjutan Poktan sebagai akar baru bagi proyek ambisius Planet Nufo. Keberhasilan pada tahap pembibitan yang telah dicapai dalam waktu tiga hari memang menggembirakan, namun tantangan yang lebih besar justru menanti pada fase-fase berikutnya, terutama ketika bibit harus dipindahkan ke media tanam permanen dan diuji ketahanannya menghadapi cuaca ekstrem khas musim kemarau di Rembang.

Sebagai penutup, penting untuk digarisbawahi bahwa proyek Poktan bukan semata proyek pertanian dalam pengertian teknis, melainkan proyek pendidikan dalam pengertian yang lebih luas. Setiap galon yang dipotong menjadi media tanam, setiap nutrisi yang diracik dari bahan alami, dan setiap jadwal penyiraman pagi dan sore hari, pada hakikatnya adalah kurikulum tersembunyi yang mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab kepada seluruh warga Planet Nufo. Dengan demikian, akar baru yang ditanam hari ini diharapkan tidak hanya menumbuhkan padi dan sayuran, tetapi juga menumbuhkan generasi yang benar-benar mewujudkan cita-cita cerdas, kaya, dan berkuasa dalam makna yang seutuhnya. Catatan mengenai perkembangan selanjutnya akan disampaikan pada kesempatan berikutnya.

Daftar Rujukan

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (BRMP Lingkungan Pertanian). Mengenal Lahan Sawah Tadah Hujan.

Cybex Pertanian Kementerian Pertanian. Mengenal Apa Itu Pertanian Tadah Hujan dan Tahapannya; Budidaya Padi di Lahan Kering dan Tadah Hujan.

Indoraya News (2026). Strategi Pemprov Jateng Hadapi Potensi Kekeringan Ekstrem dan Gagal Panen.

Jurnal Currency: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah. Pengaruh Pendidikan Kewirausahaan dan Kebijakan Pesantren terhadap Minat Berwirausaha Santri.

Penelitian Pemberdayaan Santri melalui E-Farming dan Agripreneur Hidroponik di berbagai pondok pesantren di Indonesia (studi kasus Ecopesantren Ittifaq Bandung, PP. Nurud Tauhid Lumajang, dan PP. NURIS Silo).

Hadis riwayat Imam Bukhari tentang keutamaan bekerja dari hasil usaha tangan sendiri, sebagaimana dicontohkan Nabi Dawud alaihissalam.