Oleh: Keysara Lituhayu (Call Me Alokai), Santri-Murid Planet Nufo Rembang
Hai.
Teruntuk kalian yang sangat suka membaca. Bisakah kalian membayangkan sebuah perpustakaan yang tidak hanya digunakan untuk membaca, tetapi juga menjadi wadah para pemikir hebat dan intelektual, pusat penelitian sains dan astronomi, tempat bertukar ide bagi para filsuf dunia, serta simbol pelestarian sejarah? Dan tentu saja, tempat membaca.
Itulah Perpustakaan Alexandria—perpustakaan terbesar dan terlengkap pada zamannya. Pusat ilmu pengetahuan, penerjemahan, dan pelestarian sejarah dunia. Bahkan banyak orang mengatakan bahwa dunia mungkin sudah maju 1000 tahun lebih cepat jika perpustakaan ini masih ada. Namun, serangkaian tragedi membuat perpustakaan ini hancur berkali-kali hingga akhirnya menjadi legenda.
Ingin tahu sejarah lengkapnya? Ayo mundur berabad-abad ke awal abad ke-3 sebelum Masehi, di Mesir.
KEINGINAN BESAR SANG PANGLIMA
Kilas balik munculnya ide perpustakaan
Pada awal abad ke-3 SM, Mesir berada di bawah kekuasaan Persia selama lebih dari satu abad. Di sisi lain, Persia juga berperang melawan Yunani. Bangsa Yunani memiliki strategi untuk melemahkan Persia dengan merebut wilayah jajahannya, termasuk Mesir.
Penjajah atau pembebas?
Yunani, di bawah panglima legendaris Alexander Agung, merebut Mesir sekitar tahun 334 SM. Menariknya, bangsa Mesir menganggap Alexander sebagai pembebas, bukan penjajah, karena selama berada di bawah Persia mereka diperlakukan dengan tidak layak.
Setelah Mesir berada di bawah kekuasaan Yunani, sebuah kerajaan didirikan di dekat Sungai Nil—wilayah strategis untuk transportasi, perdagangan, dan pertanian. Alexander kemudian membangun kota baru di muara Sungai Nil dan menamainya Alexandria.
Alexander ingin menjadikan kota ini pusat ilmu pengetahuan dunia. Ia berencana membangun perpustakaan besar, terinspirasi dari Perpustakaan Ashurbanipal di Nineveh. Ia ingin mengumpulkan seluruh ilmu pengetahuan dunia di bawah satu atap.
Namun, sebelum rencananya terwujud, Alexander wafat pada 323 SM. Impiannya kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Ptolemaios I.
MASA KEJAYAAN
Masa pemerintahan Ptolemaios I – Ptolemaios III
Mouseion
Pembangunan dimulai pada awal abad ke-3 SM. Raja Ptolemaios I tidak hanya membangun perpustakaan, tetapi juga berbagai fasilitas pendukung. Salah satu yang paling terkenal adalah Mouseion—tempat berkumpulnya filsuf, penyair, dan ilmuwan untuk menulis, membaca, dan berdiskusi.
Tokoh-tokoh besar yang pernah berkarya di sana antara lain: Eratosthenes, Euclid, Callimachus, Apollonius dari Rhodes, Aristarchus, dan banyak lagi.
Mouseion berarti “tempat para Muses”, dewi seni dan pengetahuan. Di sinilah tersimpan gulungan penelitian dan karya ilmiah. Diperkirakan perpustakaan ini memiliki sekitar 40.000–700.000 gulungan papirus pada puncak kejayaannya.
Bagaimana mereka mengumpulkan gulungan sebanyak itu?
Ada beberapa cara utama.
- Dari negeri jajahan
Saat menaklukkan wilayah baru, pasukan Alexandria tidak hanya mengambil harta, tetapi juga buku: jurnal, catatan harian, dan karya tulis lainnya. - Jalur laut
Setiap kapal yang tiba di Alexandria diperiksa. Semua buku disalin—salinannya dikembalikan, sedangkan naskah asli disimpan di perpustakaan. - Masa krisis wilayah lain
Alexandria yang makmur sering menukar bantuan pangan dengan buku dari wilayah yang sedang mengalami krisis.
Betapa besar usaha mereka demi ilmu pengetahuan.
Fasilitas perpustakaan
Selain Mouseion, tersedia ruang baca, pusat arsip, ruang praktik kedokteran, ruang diskusi, taman terbuka, bahkan ruang khusus anak dan remaja.
RENTETAN KEHANCURAN PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA
Catatan sejarah tentang kehancurannya memiliki banyak versi. Berikut beberapa peristiwa yang paling sering disebut.
JULIUS CAESAR DAN CLEOPATRA VII (48 SM)
Terjadi perang saudara antara Ptolemaios XIII dan Cleopatra VII. Cleopatra meminta bantuan Julius Caesar.
Saat pasukan mereka terdesak, Caesar memerintahkan pembakaran kapal di pelabuhan Alexandria untuk memutus jalur musuh. Api menyebar hingga mencapai perpustakaan dan membakar sebagian koleksinya. Diperkirakan sekitar 40.000 gulungan musnah, meski bangunan utama masih selamat.
Peristiwa ini dianggap sebagai awal kemunduran perpustakaan.
MASA PEREBUTAN KEKUASAAN (± 641 M)
Setelah Dinasti Ptolemaios melemah, Mesir jatuh ke tangan Romawi. Pada abad ke-3, wilayah Alexandria menjadi medan perang antara Romawi dan Ratu Zenobia dari Palmyra dalam Roman–Palmyrene War.
Wilayah tempat perpustakaan berada dijadikan benteng pertahanan dan dilaporkan hancur. Setelah peristiwa ini, perpustakaan Alexandria tidak lagi disebut dalam catatan sejarah Romawi.
Itulah sekilas sejarah Perpustakaan Alexandria—dari kejayaan hingga kehancurannya.
Bayangkan jika perpustakaan ini masih berdiri. Banyak yang percaya kita mungkin sudah hidup di tahun 3026.
Bagikan pendapat kalian tentang “lost history” ini.
Salam sayang dari Alokai 🤍
Terima kasih.