Oleh: M. Lutfi Khiz Bulluh, Santri-Murid Kelas VII SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Pati.

Di sebuah kota bernama Jakarta, hiduplah sebuah keluarga kaya raya. Ayahnya adalah orang terkaya ketiga di Jakarta pada saat itu. Kehidupan mereka sangat makmur dan tenteram. Hari-hari terasa indah, bahkan mereka sering melakukan kegiatan bersama. Bagi keluarga itu, hidup adalah ujian. Pelajaran bukan hanya diambil dari sekolah, tetapi dari kehidupan itu sendiri.

Suatu hari, seorang anak kecil bernama Za’im Khiz, biasa dipanggil Khiz. Ia sangat tampan, berbeda dengan anak-anak lain di sekolahnya. Khiz banyak disukai perempuan-perempuan cantik di sekolah. Namun, ia sama sekali tidak tertarik pada siapa pun.

Suatu pagi saat ayahnya hendak berangkat kerja, Khiz bertanya dengan senyum lebar, karena biasanya ayahnya tidak bekerja saat ia libur sekolah.

“Ayah, hari ini ayah ada proyek apa?”

“Ayah hanya ingin mengecek proyek ayah berjalan lancar atau tidak, Nak,” jawab ayahnya dengan semangat.

Namun, saat ayahnya berangkat, perasaan Khiz tiba-tiba tidak enak. Rasanya ingin menangis tanpa sebab.

Tepat pada Jumat, 31 Januari 2024, ayah Khiz mengalami kecelakaan. Saat itu Khiz belum mengetahuinya. Ketika ia sedang berada di kamar, ia mendengar ibunya menelepon polisi. Dari percakapan itu, Khiz mengetahui ayahnya kecelakaan pukul 10.00 pagi.

Khiz dan ibunya segera menuju rumah sakit yang diberitahukan polisi. Sesampainya di sana, mereka bertemu dengan petugas yang menghubungi ibunya. Ternyata ayah Khiz berada di IGD. Saat melihat ayahnya terbaring dengan tubuh penuh darah, Khiz langsung menangis keras.

“Ayahhh…!” teriaknya.

Setelah beberapa saat, ayahnya sempat membuka mata.

“A… anakku Khiz… dan istriku Sinta… yang semangat ya…”

Tiba-tiba ayahnya pingsan kembali.

Ibunya langsung berteriak memanggil dokter.

“Dokter! Tolong, Dok!”

Dokter segera datang dan memeriksa keadaan ayah Khiz. Tak lama kemudian, dokter menyampaikan kabar duka.

“Ibu… Adek… maaf ya. Ayah sudah berpulang ke rahmatullah.”

Khiz dan ibunya menangis histeris.

“Ayahhh… jangan tinggalin aku… Ayah bantu Khiz jadi lebih dewasa… Ayahhh…”

Ibunya pun pingsan karena syok. Khiz panik dan segera memanggil dokter lagi. Setelah diperiksa, dokter mengatakan bahwa ibunya hanya syok. Khiz pun sedikit lega.

Jenazah ayahnya dibawa pulang dan diurus oleh warga sekitar. Setelah dishalatkan, ayah Khiz dimakamkan di samping makam kakeknya.

Tujuh hari setelah ayahnya meninggal, ibunya berniat menikah lagi. Ia bertemu seorang pria kaya raya, bahkan lebih kaya dari ayah Khiz. Pria itu seorang duda dengan lima anak.

Namun, ada satu syarat jika ibunya ingin menikah dengannya: Khiz harus dimasukkan ke panti asuhan.

Awalnya ibunya sangat berat menerima syarat itu. Namun ia berjanji akan menjenguk Khiz setiap hari.

Ibunya masuk ke kamar dan menceritakan rencana itu. Khiz sangat kecewa. Ia langsung keluar rumah sambil membawa pakaiannya.

“Ibu jahat!” teriaknya.

Ibunya segera mengejar. Setelah berhasil menghentikannya, ibunya meminta maaf. Khiz terharu dan akhirnya memaafkan sang ibu. Mereka pun berpelukan.

“Makasih ya, Bu… Khiz sayang Ibu.”

Ibunya membawa Khiz pulang. Sesampainya di rumah, ibunya memasakkan makanan kesukaan Khiz. Sementara itu, Khiz menonton ceramah Kyai Mewing Pro Max. Awalnya ia tidak paham, tetapi lama-kelamaan ia mulai mengerti isi ceramah tersebut.

“Iya, Mah. Sebentar lagi selesai,” jawab Khiz saat dipanggil makan.

Setelah makan, ibunya bertanya dengan serius.

“Khiz… kamu kan sudah tidak punya bapak. Kamu mau punya ayah baru?”

“Mamah yakin bisa dapat ayah seperti ayahku?” tanya Khiz.

“Insya Allah. Mungkin tidak sama persis, tapi ibu akan berusaha,” jawabnya.

Setelah itu, ibunya mengajak Khiz ke Mall Ciputra. Khiz terkejut karena biasanya mereka pergi bersama ayahnya.

Sesampainya di mall, mereka shalat Maghrib berjamaah. Setelah itu makan di Hokben. Kemudian ibunya mengajak Khiz ke toko handphone.

Ternyata ibunya ingin membeli HP Samsung S25 Ultra. Ia bertanya kepada Khiz apakah cocok untuknya.

“Cocok banget, Bu. Tapi mahal nggak?”

“Boleh kok, nanti kamu juga boleh pakai,” jawab ibunya penuh kasih.

Ternyata ibunya membeli dua unit. Khiz bingung, tetapi ibunya tidak menjelaskan.

Setelah pulang ke rumah, ibunya memberikan salah satu HP itu kepada Khiz sebagai hadiah.

“Ini buat kamu, Nak.”

Khiz terkejut dan terharu.

“Makasih, Bu. Khiz sayang Ibu.”

Sejak saat itu, hubungan mereka kembali damai. Ibunya memilih untuk tetap bersama Khiz dan tidak melupakan anaknya sendiri.

TAMAT