Oleh: Sultan Murad Arkan Nurrahmat, Santri-Murid Kelas IX SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) asal Karawang

Suatu malam seorang wanita tua menjerit. Suaranya memekik karena melihat isi brankasnya menghilang. Lalu datanglah seorang pria mendekatinya. Ia berkata, “Ada apa, Mah? Kenapa menjerit keras sekali?”

“Itu, barang-barang berharga di brankas sirna tak bersisa.” Wanita itu menjawab sambil terisak.

“Hah? Kok bisa sih, Mah?” Giliran Sang pria berteriak lebih mengagetkan.

Wanita itu lalu menjelaskan tergesa-gesa, “Aku juga tidak tahu, Yah. Kita kan pulang liburan dari Paris. Begitu aku berbelok mendekati brankas, kondisinya sudah terbuka. Tentu lantas kudekati.”

“Ya sudah, tenang aja. Kita cek CCTV lalu laporkan segera ke polisi.” Pria itu mendekati istrinya, menenangkan.

Yap, merekalah orang tuaku. Kami sekeluarga baru saja kembali dari pelesir ke Paris. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakakku perempuan. Mereka semua sudah menikah. Sedangkan aku baru kelas dua belas semester genap. Kedua kakakku pisah rumah. Kakak pertama tinggal di luar kota, sedangkan satunya di luar Jawa.

Karena kejadian itulah, musnahnya isi brankas yang merupakan harta terakhir kami, kami sekeluarga langsung bangkrut. Nahasnya, bukan saja harta habis, ayahku juga terseret banyak kasus, termasuk pemilik utang di mana-mana. Akhirnya tabungan pendidikanku dipakai seluruhnya untuk melunasi utang yang jatuh tempo.

Hingga suatu hari, kakak pertamaku datang ke rumah dan berbicara kepada orang tuaku, “Aku ingin memutuskan hubungan.” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut kakakku. Setelahnya, ia pergi sambil berkata maaf. Aku yang menyaksikan langsung momen itu benar-benar tidak paham, hanya serasa mendengar petir di siang bolong. Dan saat itulah terakhir kali aku melihat sosok Kakak pertama di mataku.

Berpindah dari kejadian hari itu, masih saja ada ujian menjemput. Kakak keduaku yang tersisa, mengalami nasib menyedihkan. Ia hamil di luar nikah bersama laki-laki biadab yang amat dicintainya. Tapi, orang tuaku tak sampai hati memakinya, justru menyetujui pernikahan mereka.

Usia pernikahan kakak keduaku belum juga menginjak beberapa minggu, sudah muncul kabar tak mengenakkan. Kakak iparku ternyata adalah buronan. Ia terjerat beragam masalah. Walhasil ia tak pernah pulang ke rumah lagi.

Semenjak bangkrut, ayah dan ibuku kerja. Ayahku bekerja sebagai nelayan harian, ikut temannya, dan ibu menjual sayur mayur. Itupun tak berlangsung lama. Raga ibu mudah letih, hingga akhirnya meninggal akibat kecapean dan jarang makan.

Aku benar-benar capek dengan hidup ini. Penderitaanku makin lengkap. Aku sendiri mengidap penyakit autoimun dan disusul keponakan keduaku yang baru saja lahir secara prematur. Terdapat gangguan aliran cairan di otak yang dialaminya, atau dikenal sebagai hidrosefalus.