Oleh: Sulthan Murad Arkan Nurrahmat, Santri-Murid Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Karawang.

Saat itu aku sedang duduk menunggu kereta yang akan datang. Di sana, aku melirik seseorang yang duduk di bangku sebelah kananku. Sekilas, ia tampak seperti seseorang yang hidupnya tidak baik-baik saja. Entah mengapa, aku merasa kasihan padanya. Padahal, mungkin saja ia hanya sedang belajar menerima semua luka yang pernah dialaminya.

Di bangku sebelah kiriku, duduk seorang mahasiswa yang tengah belajar dengan serius. Menurutku, dia seperti maniak belajar. Setiap saat membaca buku, seakan tak ada aktivitas lain selain itu. Namun aku sadar, aku tak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya saja.

Lalu, ke mana perginya perempuan itu? Sudah lama aku tak melihatnya. Padahal aku selalu ingin bertemu dengannya lagi. Bagiku, dia seperti malaikat yang jatuh ke bumi. Bisa dibilang, dia adalah wanita tercantik kedua setelah ibuku. Jika hari ini dia tidak datang, apakah artinya dia tak lagi naik kereta yang sama? Pikiranku dipenuhi rasa kecewa dan sedih. Namun, yang berlalu biarlah berlalu. Hari ini tetap terasa membahagiakan karena tanteku akan melahirkan anak laki-laki. Akhirnya, aku akan memiliki seorang saudara.

“Kereta telah tiba. Periksa kembali barang-barang Anda sebelum meninggalkan stasiun.”

Aku pun bangkit, bersiap berangkat dan menikmati ketenangan di kereta terakhir. Saat melangkah masuk, aku melihat seseorang berjalan mendahuluiku. Jantungku seketika berdebar. Dialah orang yang selama ini kutunggu-tunggu. Perempuan itu akhirnya datang. Apakah hari ini adalah hari keberuntunganku? Jika iya, aku ingin berkenalan dengannya, meski hanya sekali, sekadar mengobrol.

Aku memperhatikannya dengan saksama. Ada yang terasa berbeda. Rambutnya kini lebih pendek, membuatnya tampak semakin cantik. Aku tersentak oleh pikiranku sendiri. Jangan-jangan aku sudah seperti seorang penguntit. Pikiran itu segera kutepis. Namun, saat kembali memandangnya, perasaanku justru semakin jatuh cinta.

“Kereta telah sampai. Silakan periksa kembali barang-barang Anda dan pastikan tidak ada yang tertinggal.”

Perjalanan ini terasa terlalu singkat. Aku ingin terus memandangnya. Saat keluar dari stasiun, aku melihat seorang pria mencurigakan mengikuti perempuan itu. Hatiku gelisah. Dalam benakku muncul keinginan untuk membuntuti mereka. Aku ragu sejenak, lalu memutuskan untuk mengikuti mereka dari kejauhan.

Aku harus memastikan dia aman.

Kami berjalan cukup jauh hingga tiba di sebuah belokan sepi. Di sanalah aku melihat pria itu menyerangnya dari belakang. Perempuan itu memberontak, namun pria tersebut justru tersenyum sinis sambil menariknya paksa. Tatapan perempuan itu kosong, seolah kehilangan kesadaran. Dadaku sesak. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tanpa berpikir panjang, aku berlari sekuat tenaga dan meninju pria itu. Dia terjatuh. Saat itulah aku benar-benar melihat wajah perempuan itu—kosong, tanpa ekspresi. Aku tak tahu apakah dia pasrah atau berada di bawah pengaruh hipnotis. Amarah menguasai diriku. Aku memukul pria itu hingga akhirnya dia pingsan.

Aku segera menelepon pemadam kebakaran dan ambulans. Pria itu kuikat erat agar tak bisa melarikan diri. Sementara itu, aku berusaha menyadarkan perempuan tersebut, menanyakan namanya dan alamat rumahnya agar dapat disampaikan kepada petugas.

Tak lama kemudian, petugas datang. Perempuan itu dibawa ke rumah sakit, dan aku menyerahkan semua informasi yang kumiliki.

Setelah semuanya selesai, aku pulang ke rumah dengan perasaan lega, lalu beristirahat dengan tenang.

Tamat.