Oleh: Achmad Yusuf Uwaisy Rachman, Santri-Murid SMP Alam Nurul Planet Nufo Rembang asal Jepara

Semua ini bermula pada tanggal 25 Juni 2025. Pagi itu, aku sedang berkemas, menyiapkan barang-barang dengan tujuan mencari secercah pengalaman baru di Sekolah Alam Planet NUFO.

Saat itu, ibuku sedang berbincang dengan Lek Su’ud (sebutan Ustadz Su’ud di lingkungan keluarga). Mereka membicarakan tentang kapan aku akan dijemput dan dibawa ke Planet NUFO. Lek Su’ud memberi dua pilihan:
1.) Dijemput pukul 08.00 pagi dan ikut beliau ke Semarang untuk mengajar.
2.) Dijemput tengah malam.

Ketika dihadapkan pada dua pilihan itu, aku cukup bingung. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku merasa pilihan terbaik adalah pilihan kedua: dijemput tengah malam.

Ada beberapa alasan mengapa aku memilih pilihan itu:
1.) Agar bisa menambah kenangan sebelum berpisah,
2.) Agar tidak merepotkan banyak orang,
3.) Karena suasana malam hari lebih tenang dan sunyi, sehingga tidak mengganggu tetangga.

Di sisa jam-jam terakhirku, aku memutuskan untuk pergi bermain bersama teman-temanku. Kami sepakat pergi ke Air Terjun Biru, karena mungkin aku tidak akan bisa ke sana lagi dalam waktu yang lama.

Perjalanan menuju Air Terjun Biru cukup sulit. Kami harus melewati area sawah yang luas, bangunan perusahaan air yang terbengkalai, serta jalanan terjal dan jurang. Namun setelah melewati semua tantangan itu, akhirnya kami tiba di tempat tujuan.

Semua rasa lelah langsung terbayar lunas. Tanpa berpikir panjang, byuur! kami bersembilan langsung melompat ke dalam air.

Malam pun tiba dengan cepat. Tanpa terasa, inilah detik-detik terakhirku di rumah. Aku diajak keluargaku menghadiri pengajian rutin. Pengajian itu selesai sekitar pukul 23.00. Satu per satu adik-adikku mulai tertidur, hingga akhirnya aku duduk sendiri di ruang tamu, menunggu jemputan.

Jarum jam tepat menunjuk pukul 00.00. Tak lama kemudian, Lek Su’ud sudah tiba di halaman rumah.

Di saat itulah, aku mengucapkan kata perpisahan kepada ayah dan ibuku.