Oleh: Abyan Altaaf Ibrahim, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) RRembang asal Jakarta

Di suatu malam yang sunyi, hujan turun perlahan, hampir tanpa suara, seolah takut mengganggu kenangan yang masih bergelantungan di udara. Titik-titik air menempel di kaca jendela, membentuk garis-garis tipis seperti jejak waktu yang enggan pergi. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit—waktu yang sejak kepergianmu selalu terasa lebih lambat, seolah detik-detik pun ikut berduka.

Aku duduk di depan meja kayu tua yang mulai kusam, ditemani secangkir teh yang sudah lama kehilangan hangatnya. Uapnya telah lenyap, menyisakan rasa pahit yang mengendap di dasar cangkir. Di hadapanku tergeletak selembar kertas putih—bersih, sunyi, dan menunggu. Sudah berhari-hari aku menatapnya tanpa tahu harus memulai dari mana. Setiap kata terasa berat, seolah jika kutuliskan, maka segala yang tersisa akan benar-benar menjadi akhir.

Desember selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan. Tentang tawa yang dulu singgah tanpa diundang, tentang percakapan panjang yang berakhir di dini hari, tentang janji-janji kecil yang kita ucapkan tanpa benar-benar memahami betapa rapuhnya masa depan. Bulan ini adalah ruang penuh gema, tempat semua kenangan kembali berputar tanpa permisi.

Di luar jendela, lampu jalan berpendar redup, memantulkan bayangan seseorang yang pernah berdiri di sana—kamu. Aku masih ingat caramu menatap hujan, caramu tersenyum seolah dunia baik-baik saja, meski di balik itu ada luka yang tak pernah sempat kita bicarakan.

Malam semakin larut. Sunyi kian menebal. Dan di tengah keheningan itulah, aku akhirnya menulis.

Bukan untuk meminta, bukan pula untuk menyesali. Surat ini hanya ingin menjadi saksi bahwa kita pernah ada, pernah saling memilih, pernah percaya pada kata “selamanya”, meski akhirnya harus saling melepaskan. Tinta hitam mengalir perlahan, mengikuti getar tanganku, seperti keberanian yang baru saja kukumpulkan dari sisa-sisa harapan.

Kutuliskan hal-hal kecil yang mungkin tak pernah sempat kau dengar: tentang betapa berartinya caramu hadir, tentang bagaimana namamu pernah menjadi doa, dan tentang betapa perpisahan mengajarkanku arti kehilangan yang sesungguhnya. Setiap baris menjadi langkah kecil menuju ikhlas, meski hatiku belum sepenuhnya siap.

Saat surat itu selesai, hujan pun berhenti. Langit seakan memberi jeda, memberi ruang untuk napas yang selama ini tertahan. Seolah semesta tahu, Desember ini tak lagi membutuhkan air mata—hanya keheningan dan keikhlasan.

Aku melipat kertas itu dengan rapi, memasukkannya ke dalam amplop cokelat, lalu menuliskan namamu untuk terakhir kalinya. Tanganku sempat terhenti, namun akhirnya bergerak juga. Tak ada lagi yang perlu ditunda.

Besok, surat ini akan pergi, menyusuri jarak yang tak lagi bisa kutempuh.
Dan aku… akan belajar tinggal.

Tinggal bersama kenangan, bersama sepi, dan bersama diriku sendiri—hingga suatu hari, luka ini menjelma tenang, dan Desember tak lagi terasa sesakit ini.