Oleh: Nawwaf Absyar Rajabi, Santri-Murid SMP Alam Nurul (Planet Nufo) Rembang

Di Indonesia, banyak orang telah menulis buku, terutama novel. Namun, jarang sekali ada penulis yang masih duduk di bangku SMP sudah mampu menulis dan menerbitkan buku. Bahkan, tidak sedikit siswa SMA yang masih kesulitan dalam hal membaca dengan lancar.

Berbeda halnya dengan SMP Alam Nurul Furqon, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Planet Nufo. Di sekolah ini, para santri atau murid sudah diajarkan menulis sejak dini, khususnya menulis novel. Alasannya, dari berbagai jenis karya tulis, novel dianggap paling mudah dikuasai oleh penulis pemula. Jumlah penulis di Planet Nufo pun sudah tidak bisa dihitung dengan jari tangan saja—bahkan perlu menambahkan jari kaki.

Mengapa Guru di Planet Nufo Terus Mendorong Muridnya untuk Menulis?

Menurut data dari Kominfo Digital Indonesia (Komdigi), UNESCO menempatkan Indonesia di urutan kedua dari bawah dalam hal literasi dunia. Artinya, minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah—hanya sekitar 0,001%. Dengan kata lain, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca.

Selain itu, berdasarkan hasil survei PISA tahun 2022, Indonesia berada di peringkat 70 dari 81 negara dengan skor literasi membaca 359 poin. Meski skor ini turun 12 poin dari tahun 2018 (371 poin), peringkat Indonesia justru naik sekitar lima hingga enam posisi karena banyak negara lain juga mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19.

Kondisi inilah yang membuat para guru di Planet Nufo semakin bersemangat mendorong muridnya untuk menulis. Sebab, menulis adalah bagian penting dari proses literasi. Dalam menulis, seseorang melewati berbagai tahap: membaca, berpikir, dan merenung. Seperti komputer yang memiliki input dan output—input-nya adalah membaca, sementara output-nya adalah menulis.

Di banyak sekolah, program literasi biasanya berupa “membaca lima menit” sebelum pelajaran dimulai. Namun, kegiatan itu hanya berfokus pada membaca, bukan menulis. Kalaupun ada kegiatan menulis, biasanya hanya untuk lomba atau tugas Bahasa Indonesia yang dikerjakan setahun sekali.

Berbeda dengan Planet Nufo, di sini para santri diwajibkan menulis minimal sekali dalam seminggu. Melalui kebiasaan ini, kemampuan berpikir kritis dan kreativitas mereka terus diasah.

Lahirnya Penulis Muda dari Planet Nufo

Hingga saat ini, Planet Nufo telah melahirkan banyak penulis muda berbakat. Salah satu yang paling dikenal adalah Aletheia Rausan Fikra Ukma, yang memiliki puluhan karya di situs Baladena dan telah menerbitkan dua buku, salah satunya berjudul Arsip Insomnia.

Selain itu, ada juga alumni Planet Nufo yang kini telah lulus, yaitu Tarakka Iddo Rajendra, penulis buku Algoritma Pencarian Cinta. Penulis dan beberapa teman kelas IX juga sedang proses menerbitkan buku dan sudah diproses di penerbit, antara lain Sang Santri oleh Nawwaf Absyar Rajabi, Legenda Kapten Ucok oleh Muhammad Fazli Ishaqy, dan dua 3 buku lainnya.

Dari kisah mereka, kita dapat belajar bahwa jika anak SMP saja mampu menulis dan menerbitkan buku, maka siapa pun bisa—asal memiliki semangat dan lingkungan yang mendukung.