Oleh: Atana Hokma Denena, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang

Sebagai gus, aku tahu betul bagaimana cara kerja “ilmu laduni” di dunia pesantren.

Ceritanya begini. Banyak kiai yang punya anak dengan pengetahuan agama yang jauh melampaui usianya. Lalu para santri kiai itu bilang ke umat, “Itu ilmu laduni. Ilmu yang langsung diberikan Allah tanpa harus belajar.” Umat percaya. Kagum. Bahkan ada yang sampai minta berkah.

Padahal kenyataannya? Anak-anak itu dididik keras sejak kecil. Digenjot hafalan, diajari kitab, dibiasakan diskusi sejak sebelum mereka bisa main bola dengan benar. Termasuk aku.

Itu bukan ilmu laduni. Itu kerja keras yang disembunyikan di balik cerita mistis.

Abah tidak pernah percaya omong kosong semacam itu. Suatu hari, beliau pernah ngomong langsung kepadaku:

“Mas Ho, kamu itu nggak usah percaya sama yang namanya ilmu laduni. Itu semua booohong. Kan kamu sudah mengalami dan mengetahuinya sendiri.”

“Iya juga sih,” jawabku.

“Pokoknya nggak usah percaya sama yang nggak jelas begitu!”

Aku tidak bisa tidak setuju. Bagi Abah, ilmu ya harus dipelajari. Titik. Kalau ilmu laduni itu benar-benar ada, kenapa tidak ada orang yang tiba-tiba jadi dokter tanpa kuliah di Fakultas Kedokteran? Kenapa tidak ada insinyur yang tiba-tiba bisa bangun jembatan tanpa pernah belajar teknik?

Tapi masalahnya, kebanyakan orang Indonesia yang pada dasarnya memang suka hal-hal mistis menelan cerita semacam itu mentah-mentah. Apalagi kalau yang nyeritainnya ustadz dengan jutaan pengikut. Tidak ada yang berani tanya, tidak ada yang berani periksa kebenarannya.

Dari situlah Abah mulai bergerak. Beliau bikin Monash Institute, pesantren khusus mahasiswa, supaya bisa meluruskan cara berpikir yang sudah terlanjur bengkok itu. Tapi ternyata tidak mudah. Mahasiswa yang masuk ke sana kebanyakan sudah terlanjur terbiasa dengan pola pikir mistis-mitologis sejak kecil. Susah diubah.

Maka Abah memutuskan untuk mulai dari awal. Dari anak-anak. Dari usia yang masih bisa dibentuk. Lahirlah Planet Nufo.

Di sini, tidak ada cerita ilmu laduni. Yang ada hanya belajar, kerja, dan tanggung jawab. Santri-murid diajarkan berwirausaha sungguhan, mulai dari mengurus hewan ternak sampai mengelola usaha kecil, dan dibayar sesuai kerja mereka. Bukan karena berkah siapa-siapa. Tapi karena mereka memang bekerja.

Itu yang Abah tanamkan. Dan itu yang aku percaya.