Oleh: Abied Rafly Duwi Nurgoho, Santri-Murid Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Nganjuk, Jawa Timur
Pagi hari di rumah selalu datang dengan cara yang sederhana, namun menenangkan. Saat matahari mulai naik perlahan, cahaya lembut menyelinap melalui celah jendela, membangunkan suasana rumah dari tidurnya. Aku terbangun oleh suara ibu yang sudah lebih dulu beraktivitas di dapur. Bunyi piring, sendok, dan wajan berpadu dengan aroma masakan yang membuat perut terasa lapar. Setelah merapikan tempat tidur, aku segera membantu ibu menyapu lantai, menyiapkan air minum, atau sekadar menemani sambil berbincang ringan.
Setelah pagi berlalu, rumah kembali terasa tenang. Ayah bersiap berangkat bekerja, sementara adik bersiap dengan kegiatan masing-masing. Aku menghabiskan waktu dengan membersihkan rumah dan mengerjakan tugas. Di ruang tamu, angin masuk pelan-pelan, membawa kesejukan. Kadang aku berhenti sejenak, duduk di dekat jendela, memandangi halaman sambil menikmati sunyi. Rumah ini mungkin tidak besar, tetapi di sinilah semua rasa aman bermula.
Menjelang siang, ibu memanggil kami untuk makan bersama. Kami duduk di meja makan sederhana, menyantap hidangan rumahan yang penuh rasa. Tidak selalu mewah, namun selalu dibuat dengan kasih sayang. Di meja itulah cerita kecil dibagikan—tentang pekerjaan ayah, tentang kegiatanku, dan tentang hal-hal sederhana yang terjadi hari itu. Tawa kecil dan obrolan ringan membuat waktu makan terasa hangat.
Sore hari menjadi waktu yang paling menyenangkan. Setelah beristirahat sejenak, aku membantu ibu menyiapkan minuman dan camilan. Kami duduk di teras atau ruang keluarga sambil menikmati angin sore. Langit perlahan berubah warna, dari biru cerah menjadi jingga keemasan. Anak-anak di sekitar rumah bermain, sementara kami berbincang tentang rencana esok hari. Suasana sore di rumah selalu membawa ketenangan yang sulit dijelaskan.
Saat malam tiba, rumah kembali dipenuhi kebersamaan. Setelah makan malam, kami berkumpul di ruang keluarga. Ayah menceritakan pengalamannya hari itu, ibu mendengarkan dengan senyum, dan aku serta adik menyimak dengan penuh perhatian. Terkadang kami menonton televisi bersama atau hanya berbincang hingga rasa kantuk datang.
Menjelang tidur, aku kembali ke kamar. Lampu rumah mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan keheningan yang damai. Hari itu mungkin tidak diisi dengan hal-hal besar, tetapi setiap momen kecil di rumah memberi arti tersendiri. Di rumah, aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang kemewahan, melainkan tentang kebersamaan, perhatian, dan rasa syukur atas hari yang telah dilalui.