![]() |
| Cover Buku Pelangi Cinta di Planet NUFO |
Cinta adalah rangkaian dari lima huruf alfabeta yang menciptakan jutaan rasa yang tidak terkira. Sesuatu yang biasa saja di panca indera, menjadi hal yang luar biasa di dalam rasa. Jika kita melihat cinta seperti bunga, maka ia akan membentuk taman terindah yang pernah ada. Jika kita mendegarnya seperti kicauan burung, maka ia akan terdengar seperti simponi termerdu. Dan jika kita memandangnya seperti warna, maka ia akan melukis pelangi termegah yang membuat kita tidak ingin mengalihkan mata darinya. Sungguh, tidak ada karsa di dunia ini yang mampu mengalahkan kekuatan magis Cinta.
Meskipun kekuatan cinta begitu dahsyat, kita perlu ingat bahwa masih ada Tuhan, sang maha cinta, yang tidak tidur dalam singgasana-Nya. Dialah dzat yang sangat adil dan mengatur segala hal dengan sangat seimbang. Dengan hukum alam yang mengikat ruang dan waktu, Tuhan menciptakan pertemuan-perpisahan, tumbuh-layu, mekar-menciut, membara-padam, dan tinggal-meninggalkan. Jadi, pada detik yang bersamaan, ada jutaan manusia dari berbagai belahan dunia ini yang sedang merayakan suka cita karena mendapatkan cinta. Di sisi lain, ada yang merasakan sakitnya nestapa karena melepas cinta. Tidak jarang juga ada yang masih berdebar-debar menunggu kabar balasan cinta yang ia ungkapkan. Bahkan, ada yang memilih untuk tetap menyimpan bara cinta dalam diam. Bergembiralah! Bersyukurlah! Itulah yang terbaik!
Dr. Mohammad Nasih mengatakan, kekuatan cinta yang besar itu besar, maka harus dijaga dengan baik dan diarahkan kepada hal-hal yang positif. Cinta yang baik akan mengarahkan pemiliknya kepada karya. Sebut saja, Jalaluddin Rumi dengan syair-syairnya yang fenomenal, Shah Jahan dengan Taj Mahal yang begitu indah untuk persembahan istri tercinta, dan Sangkuriang yang membuat perahu sebagai bukti cintanya kepada dayang Sarimbi, meskipun akhirnya perahu itu ditendang dan berubah menjadi gunung. Sebaliknya, cinta yang mengarahkan kepada keburukan maka cinta itu hanya mengganggu masa depan. Imbasnya, karir hidup menjadi kacau, prestasi yang menurun, dan kebahagiaan yang hilang. Saat itulah, kematangan kita diuji untuk mengambil keputusan dari tiga pilihan: memulai, melanjutkan, atau menghentikan.
Memulai babak baru dalam percintaan adalah bagian yang paling menguras banyak tenaga, fikiran, dan bahkan materi. Tidak jarang seseorang yang hendak mengetuk hati idamannya harus berkosolidasi dengan teman-temannya, menjaga penampilan agar tetap kelihatan keren, dan bahkan mengurangi porsi makan agar badan tetap ideal. Selain itu, kita tentu ingat lirik lagu Risalah Cinta karya Dewa 19. “Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta, beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa.” Mengatur waktu yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam hati juga menentukan keberhasilan cinta kita. Pengungkapan yang tergesa-gesa akan terkesan ngotot, egois, dan tidak terkendali. Tidak perlu khawatir dan tetaplah bersabar untuk menunggu waktu yang tepat. Percayalah! Penantianmu tidak akan mengurangi rasa cintamu satu jengkal pun.
Seseorang yang memilih untuk tetap melanjutkan cintanya, sebaiknya memperlakukan kekasihnya dengan sebaik mungkin. Menjaga bukan berarti mengekang setiap kehendak. Mengarahkan bukan berarti menghardik. Memiliki bukan berarti bisa mempermainkan. Mengajak bukan berarti memaksa. Kelebihan yang ada padanya adalah kebahagian bagi kita. Sedangkan kekurangnya adalah ruang untuk membuktikan rasa cinta kita. Bagaikan seorang pecinta yang mencintai bulan di langit sana. Tidak usah egois dengan memaksanya harus menjadi purnama utuh yang sempurna. Saat ia menjadi setengah hilang, sabit, atau bahkan gerhana itulah bentuk bulan terbaik kita yang tetap indah untuk dipandang.
Sebaliknya, saat hati nurani lebih memilih untuk menghentikan cinta, maka berbijaklah dan berdamailah dengan kebencian yang ada. Tak perlu sampai membencinya, seperti kita membenci duri yang ada pada bunga, atau rasa pahit yang pada pare, dan menggangapnya seperti luka yang ada kulit. Kebencian yang membabi buta ini bisa mengantarkan kita kepada kesedihan dan keburukan yang lebih dalam. Berkemas dan berterima kasihlah! Darinya kita bisa berlajar lebih dewasa dan menjadi kuat. Akhirnya, semua akan indah pada waktunya. Jika belum indah, berarti itu belum waktunya.
Buku yang berjudul “Pelangi Cinta di Planet NUFO” ini hadir sebagai kumpulan rahasia kecil sekumpulan remaja dalam kawah candradimuka cinta. Lazimnya remaja muda yang lain, banyak hal yang mereka temukan selama menyusuri perjalanan cinta ini. Mulai dari kedatangan cinta yang jauh dari dugaan dan nalar mereka. Secara tiba-tiba cinta datang saat pandangan pertama berjumpa. Padahal, mereka berasal dari pulau dan provinsi yang berbeda. Perselisihan dan kompetisi antar dua hati untuk satu hati. Kerinduan yang sempat terpisah karena jarak dan waktu saat pandemi Covid 19. Hingga pada akhirnya, semua cinta mereka harus mereka ramu untuk mewujudkan visi, misi, dan cita-cita yang luhur. Karya ini menjadi salah satu bukti nyata kekuatan cinta para pujangga muda. Selamat membaca!
Oleh: Muhamad Abdul Rozaq, S.H., Kepala SMP Alam Nurul Furqon (Planet NUFO) Mlagen Rembang, Mahasiswa Magister Ilmu al-Qur’an dan Tafsir FUHUM UIN Walisongo Semarang
