Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” itulah perkataan Bung Karno yang sering dilantunkan pemuda saat ini. Kalimat tersebut sering diucapakan ketika merayakan Hari Sumpah Pemuda.

Makna kalimat yang dilontarkan oleh Bung Karno sangat jelas sekali bahwa ia amat percaya akan kecerdasan, ketangguhan, dan kekuatan yang dimiliki oleh pemuda. Apa itu pemuda? Pemuda berasal dari kata muda yang kemudian diberi awalan pe- di depannya. Muda berarti belum mencapai setengah umur, sedangkan pemuda adalah seseorang yang masih muda dan memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk bangsa. Maka dapat dikatakan pemuda merupakan harapan bangsa.

Tantangan pemuda sebelum merdeka adalah melawan penjajah. Dulu pemuda harus bertarung fisik, mempertahankan diri dan keluarga mereka dengan taruhan nyawa. Mempertaruhkan jiwa dan raga mereka. Jika mereka melawan, maka akan terbunuh. Sebaliknya, meski memilih hanya diam, mereka juga akan mendapat siksaan dan menjadi budak para penjajah yang sangat biadab.

Berbeda dengan saat ini, tantangan pemuda adalah bangsa mereka sendiri. Bung Karno sekali lagi pernah mengatakan: “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, sedangkan perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. Dan kini, ini memang betul adanya. Kasus maraknya tawuran antar pelajar dan perkelahian antar supporter, menjadi salah satu contoh. Ini merupakan bukti bahwa rasa persatuan yang ada dalam diri mereka kurang terpupuk.

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa pemuda adalah orang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Dan akhirnya 17 tahun kemudian Indonesia merdeka, yakni pada 17 Agustus 1945. Berikut ini bunyi sumpah pemuda yang terikrar saat itu:

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar sumpah pemuda tersebut menjadi bukti adanya persatuan para pemuda Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Mereka semua berkumpul dalam sebuah forum untuk mencari cara memerdekakan Negara Indonesia. Walaupun harus mempertaruhkan nyawa mereka, mereka tetap berani melawan penjajah.

Ironi, hal itu sungguh berbeda dengan pemuda sekarang. Pemuda zaman sekarang hanya bertengkar masalah sepele, bahkan saling bunuh antar teman maupun saudara. Banyak sekali kejadian yang sangat tidak manusiawi. Tidak terhitung, sudah berapa banyak orang tua yang membunuh anaknya atau sebaliknya serta sederet kasus murid membunuh gurunya. Namun aneh, semua itu dianggap biasa-biasa saja.

Semarak pergaulan bebas pun telah terjadi di Indonesia. Masih SMP sudah berbadan dua dan memiliki bayi. Ketika bayi sudah lahir, mereka tidak mau merawat bayi mereka, bahkan ada yang sampai membuangnya dan membunuhnya. Mereka hanya mencari kenikmatan yang sementara tanpa memikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Guru ngaji saya yang bernama Ustadzah Rida pernah mengatakan “berlebihan dalam nikmat akan menimbulkan maksiat.” Contoh yang diisyaratkan oleh guru saya kala itu adalah ketika kita digigit seekor nyamuk. Seusai kulit kita tergigit, pastilah akan muncul bentol. Bentol-bentol ini menimbulkan sensasi luar biasa sehingga sangat nikmat sekali ketika digaruk. Namun efek yang ditimbulkan justru lama kelamaan kulit akan menjadi perih, bisa juga hingga berdarah. Ternyata memang benar, kita tidak boleh terlalu berlebihan dalam mengusai sebuah nikmat. Makan, tidur, ataupun hal yang lainnya harus kita atur sesuai porsi agar tidak berakhir dengan maksiat atau perbuatan yang tidak baik.

Mari mencontoh pemuda di zaman Rasulullah yang sangat semangat dalam jihad. Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqash, dan Bilal bin Rabbah misalnya. Demi memperjuangkan agama Allah dan membela Rasulullah, mereka berani mengorbankan nyawa dan harta mereka. Rasa cinta mereka begitu besar kepada Allah, agama, dan Rasulullah. Mereka tidak takut mati. Memang dalam Islam, kita sebagai seorang muslim tidak boleh takut akan mati, tetapi harus rindu akan kematian. Mati dalam artian membela kebenaran atau berjihad di jalan Allah.

Beginilah Seharusnya Seorang Pemuda

Harusnya pemuda-pemudi saat ini mengikuti atau mencontoh pemuda di zaman ketika penjajahan dan zaman Rasulullah. Melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan belajar sungguh-sungguh sebagai pelajar dan berani menyampaikan kebenaran. Seorang pemuda haruslah berani melawan para pemimpin yang lalim. Tidak hanya diam tatkala mendapati pemimpin mereka mengucapkan janji yang tidak ditepati.

Beragam berita mengabarkan perilaku pejabat-pejabat yang melakukan hal yang sangat bejad semisal korupsi. Mereka mencuci otak rakyat dengan sangat mudah dan menikmati uang yang mereka dapatkan. Sebagai seorang pemuda kita tidak boleh diam saja ketika mengetahui hal demikian terjadi. Kita haruslah melawan para pejabat yang mendzolimi rakyat.

Banyak sekali media-media yang berusaha menutup-nutupi kebejadan para pejabat. Media elektronik dan tulisan, semuanya berisi tentang kebaikan para pejabat. Sekarang, kita sangat sulit memercayai media. Inilah pekerjaan rumah (PR) kita selaku pemuda. Pemuda harus cerdas menyaring berita. Hindarkan diri dari pengaruh berita HOAX yang dapat menimbulkan perpecahan.

Semua tantangan yang dihadapi oleh pemuda harus dieksekusi seoptimal mungkin dengan cara memunculkan kepribadian seorang “pemuda” yang bermakna harapan bangsa, sebagaimana penulis jelaskan di awal. Hal ini bermakna, pemuda seyogyanya memahami arti penting menjaga harga diri dan reputasi. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

Oleh: Mohammad Fahim Al-Ghifari SugihartoSantri Remaja (Sanja) Planet Nufo Mlagen, Pamotan, Rembang asal Magetan.