Lanjutan Ashi ARC: Bangkit dari Kerugian
Oleh: Achmad Yusuf Uwaisy Rachman, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Jepara
Hujan baru saja reda, meninggalkan bau tanah basah yang khas, juga desit aliran air yang mengalir dari selokan menuju ke arah sungai. Di situlah aku berada, termenung, seakan memikirkan nasib usahaku—banyaknya ayamku yang mati karena penyakit yang belum kuketahui penyebabnya.
“Ini, Wais, coba kamu cari penyebab ayam-ayam kamu bisa mati,” saran Ustadz Su’ud.
Ustadz Su’ud langsung memberikan gawainya kepadaku. Setelah sekian lama aku mencari, akhirnya kutemukan tiga jenis penyakit yang gejalanya cukup mirip dengan yang dialami ayam-ayamku, yaitu:
1.) Penyakit ND (Newcastle Disease) / Tetelo
2.) Feses kapur
3.) Flu burung
Dari ketiga jenis penyakit tersebut, aku paling yakin dengan flu burung, mengingat iklim dan kondisi cuaca akhir-akhir ini yang sering hujan serta suhu udara yang cukup dingin.
Aku pun memutuskan untuk mencari lebih dalam tentang penyakit flu burung agar tahu penyebab dan cara pencegahannya. Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku menemukan sebuah artikel yang sangat cocok, terutama pada bagian penyebabnya, yaitu kondisi litter (media alas kandang).
“Assalamu’alaikum, Ust. Ini, saya sudah menemukan penyebabnya, yaitu litternya. Jadi begini, karena kondisi iklim sedang buruk, curah hujan meningkat, tanah menjadi becek di mana-mana, dan banyak genangan air. Kesimpulannya, air yang menggenang itu merembes masuk ke dalam kandang,” jelasku dengan padat dan singkat.
“Jadi, jalan keluarnya apa, Wais?” tanya beliau.
“Mungkin ayamnya harus dipindah, Ust.”
“Oke, kalau begitu, Wais. Kamu hubungi dulu Bang Sabil supaya dibuatkan kandang. Nanti soal kebutuhan lainnya biar saya yang belikan.”
Tujuh hari kemudian, kandang baru pun selesai dibuat. Setelah ayam-ayam dipindahkan, penyakit flu burung itu tidak kembali menyerang. Perlahan, usaha ternakku mulai bangkit kembali dan memperlihatkan taringnya.
Tamat…