Oleh: Adam Mahir Zain, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang
Pada siang hari, hiduplah seorang anak bernama Tommy. Ia adalah anak gendut yang sangat gemar makan. Siang itu, saat sedang rebahan di kamar, Tommy melihat sebuah mobil penjual es krim berhenti tepat di depan rumahnya.
Dengan penuh semangat, ia langsung melompat turun dari kasurnya dan berlari keluar.
Sesampainya di depan mobil es krim, Tommy berteriak,
“Bang! Beli ice cream!”
Si penjual pun keluar. Namun anehnya, ia mengenakan topeng yang terlihat menyeramkan. Karena terlalu bersemangat, Tommy tidak menaruh curiga sedikit pun.
Saat es krim hendak diberikan, tiba-tiba si penjual mengeluarkan senjata aneh yang bisa membekukan siapa pun. Dalam sekejap, tubuh Tommy membeku. Tanpa ampun, ia dimasukkan ke dalam mobil.
Dalam perjalanan, tubuh Tommy perlahan mencair. Ia mendengar penjual itu berbicara sendiri,
“Tenang, kawan. Aku sudah membawa santapan untukmu.”
Mendengar itu, Tommy sangat panik. Ia berusaha melepaskan diri. Saat es yang membekukannya mencair sepenuhnya, Tommy memberontak hingga berhasil keluar dari kurungan. Namun ia masih berada di dalam mobil.
Penjual itu mendengar keributan dan menghentikan mobil. Saat pintu belakang dibuka, Tommy langsung melompat ke arahnya.
“Hyaaaa!”
Gedebuk!
Kepala si penjual terbentur keras.
“Rasakan itu! Sekarang aku harus kabur!”
Tommy berlari sekuat tenaga. Di kejauhan, ia melihat seseorang.
“Hei, tolong aku!” teriaknya kelelahan.
Namun saat orang itu menoleh, Tommy terkejut. Orang tersebut memakai topeng yang sama persis.
Dengan ketakutan, Tommy kembali berlari. Ia mendengar langkah kaki mengejarnya.
Apa hidupku akan berakhir di sini? pikirnya.
Tiba-tiba, orang itu tersandung ranting. Tommy memanfaatkan kesempatan itu untuk bersembunyi.
Ia masuk ke sebuah bangunan tua. Namun, pemandangan di dalam membuatnya terpaku: banyak mayat anak-anak tergantung di tiang.
Tubuh Tommy gemetar. Ia merasa tak mungkin bisa selamat.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat.
“AAAH! Baru kali ini aku gagal mendapatkan makanan!” teriak si penjual dengan marah.
Tommy mencoba kabur perlahan, tetapi tanpa sengaja menginjak ranting.
Krak!
“Siapa di sana?!”
Tommy langsung berlari. Kejar-kejaran pun terjadi. Saat berlari, Tommy tersandung batu dan jatuh. Penjual itu sudah berdiri tepat di belakangnya.
Melihat batu di sampingnya, Tommy mengambil dan melemparkannya ke wajah penjual itu.
Track!
Topeng itu pecah.
Wajah di balik topeng sangat mengerikan: penuh luka jahitan, dengan gigi-gigi runcing bertaring.
Tommy gemetar ketakutan. Ia pasrah.
Tiba-tiba, cahaya senter menyilaukan wajah si penjual. Dalam kekacauan itu, seseorang menarik Tommy dari belakang.
Ternyata, itu adalah kakaknya.
“Kak?! Bagaimana kamu bisa di sini?”
“Panjang ceritanya. Nanti kakak jelaskan.”
Mereka pun berhasil melarikan diri.
Dalam perjalanan pulang, kakaknya menceritakan semuanya.
Saat ia masuk ke kamar Tommy, adiknya sudah tidak ada. Dari jendela, ia melihat Tommy dibekukan dan dibawa pergi. Ia lalu mengejar mobil itu dengan motornya hingga akhirnya berhasil menolong Tommy.
Sesampainya di rumah, Tommy masih gemetar. Sejak hari itu, ia trauma membeli es krim.
Tamat