Pada Sabtu sore ada tiga orang best friend. Mereka semua laki-laki. Mereka bertiga bersiap-siap untuk pergi muncak ke Gunung Kerinci. Setelah barang mereka beres mereka pun berpamitan kepada orang tua mereka masing-masing.

“Mah, Pa, aku pamit dulu ya. Doakan perjalanan kami lancar sampai tujuan,” pamit Adit, Acin, dan Gio.

“Iya. Mamah dan Papah pasti akan mendoakan kalian. Hati-hati di jalan ya, Nak.” balas para orang tua mereka.

Setelah berpamitan Adit, Acin, dan Gio pun berkumpul di pertigaan gang rumah mereka. Setelah mereka semua siap dan telah kumpul, mereka pun melanjutkan perjalanan. Beberapa jam kemudian mereka bertiga pun sampai di Posko muncak. Tak lama kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanan pendakian. Akhirnya pada pukul 04.00 pagi mereka sudah sampai di puncak. Ternyata di atas sana pemandangannya sangatlah indah. Pada pukul 06.00 Gio merasa ada kejanggalan. Pada sore harinya mereka bersiap turun ke bawah. Pada saat bersiap hendak berangkat, Gio berpesan:

“Adit, Acin, nanti ketika kita turun, mohon tidak ada yang berpencar ya,” Gio memperingatkan.

“Baik, Bos.” Kedua temannya menimpali dengan tegas.

Akhirnya mereka pun turun ke bawah bersama-sama sambil saling mengawasi satu sama lain. Pada beberapa titik perjalanan mereka menemukan hutan. Pada saat melewati salah satu hutan mereka tiba-tiba merinding. Bulu kuduk mereka serasa berdiri.

“Adit, Gio, kita berpegangan tangan yuk.” ajak Acin.

“Hayuk,” jawab Adit dan Gio.

Benar saja, ternyata hutan yang mereka lewati terkenal sebagai hutan berhantu. Dan tak disangka mereka diteror oleh hantu hutan itu. Gio sekali lagi mengingatkan,

“Adit, Acin, ayo berpegangan tangan. Jangan sampai kita berpencar!” suara Gio terdengar perlahan namun tetap dengan kesan khasnya, tegas dan dewasa.

“Iya,” Adit dan Acin menjawab serempak, meski terlihat jelas bahwa mereka sangat khawatir.

Mereka bertiga bergegas untuk saling berpegangan erat.

*

Beberapa jam telah berlalu. Kini mereka sudah terbebas dari hutan berhantu tersebut. Tak lama kemudian akhirnya mereka pun tiba di posko yang pertama. Mereka istirahat sejenak. Tanpa berselang lama mereka pun melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang ke kediaman masing-masing.

Begitu tiba di rumah, mereka bertiga langsung mandi, berganti pakaian, dan beristirahat. Azan Maghrib mulai berkumandang. Adit dan keluarga pun melaksanakan shalat lalu makan malam bersama. Seusai melahap menu makanan malam, Adit duduk santai menunggu adzan Isya sambil memainkan ponselnya. Pikiran Adit melayang. Sejurus kemudian Adit teringat sesuatu. Ternyata ia sangat penasaran dengan apa yang ia alami. Ia mulai menyelami ponselnya, berselancar di google untuk membaca sejarah Gunung Kerinci. Hasil bacaan Adit mengungkapkan bahwa konon katanya Gunung Kerinci suka sekali dengan orang yang menukar barang dengan makhluk halus. Dan bahkan, gunung ini memang terkenal angker. Sontak pasca membaca narasi tadi, Adit seketika sangat mempercayai bahwa hutan yang ia datangi bersama kedua karibnya memanglah sungguh berhantu.

Adzan isya mulai memanggil para muslimin. Adit terperanjat hingga seolah membanting ponselnya di kursi empuk. Aman lah, tidak rusak, hehe.

The end.

Oleh: Nabila Rahmadatul Aisy, Santri-Murid Kelas IX SMP Alam Nurul Furqon asal Padang.