Oleh: M. Fazli Ishaqy, Santri-Murid Kelas IX SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Banten

Keadaan rumah itu begitu ramai. Ada tiga anggota keluarga yang tinggal di dalamnya. Raka adalah anak pertama yang sedang menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama. Ia merupakan anak laki-laki yang tangguh. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menjadi tulang punggung keluarga. Raka harus membantu menghidupi keluarganya yang hidup dalam keterbatasan. Ibunya bekerja sebagai pencuci piring di sebuah warteg, tetapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya . Sementara itu, ayahnya yang sering sakit-sakitan hanya bisa terbaring di kasur tipis.

Setiap pagi dia harus membantu ibunya, mulai dari merapikan rumah, menimba air, dan mengurus ayahnya. Setelah semuanya selesai Raka bersiap untuk berangkat sekolah. Jarak antara rumah dan sekolahnya cukup jauh, sehingga membuatnya harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat.

“Buu.. Raka berangkat sekolah dulu yak,” kata Raka sambil mengecup tangan ibunya.

“Sekolah yang bener, biar kamu sukses bisa beli sepatu baru,” tangan ibu mengelus kepala Raka.

“Iya, Bu,” sahut Raka sambil melihat sepatunya yang sudah jelek.

Selama perjalan Raka sangat khawatir dengan sepatunya. Dia takut jika sepatunya tiba-tiba copot di tengah jalan. Setiba di sekolah, Raka mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh. Sepulang sekolah, Raka langsung berganti baju dan menyusul ibunya yang sedang bekerja. Raka membantu ibunya bekerja agar dia bisa mendapatkan uang dan menambah penghasilan ibunya.

Raka dan ibunya baru pulang pada pukul 16.30 WIB. Setibanya di rumah, ibunya langsung menyiapkan makan malam, sedangkan Raka membantu ayahnya yang sedang sakit. Setelah semua selesai, Raka duduk sejenak sambil menarik napas, merasakan lelah tapi juga bangga karena bisa membantu keluarga tercinta.
Banyak sekali yang sedang dipikirkan Raka, mulai dari sekolahnya, keluarganya, hingga terutama ayahnya yang sedang sakit-sakitan. Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan bintang-bintang dan bulan yang menghiasi gelapnya langit.

Raka duduk di tepi kasur, memandangi ayahnya yang tertidur lelap. Hatinya campur aduk antara lelah dan khawatir. Ia memikirkan bagaimana caranya membantu keluarganya lebih baik, bagaimana ia bisa membeli sepatu baru tanpa merepotkan ibunya, dan apakah ayahnya akan cepat sembuh. Angin malam masuk melewati jendela kamar. Malam ini semuanya berubah, impian-impian yang Raka inginkan, cita-cita yang Raka langitkan, semuanya berubah.

Keesokan paginya semua berjalan dengan lancar. Hingga Raka pulang sekolah. Saat di perjalanan pulang Raka tidak sengaja menemukan satu pasang sepatu yang tergeletak di pinggir jalan. Raka mengambil sepatu itu dan berkata dalam hati ‘wah, bagus juga ini sepatu, kira-kira punya siapa yak?’ Lama sekali dia menatap sepatu itu. Dia memutuskan untuk tetap disitu menunggu pemiliknya datang. Hingga saat matahari sudah setengah tenggelam, pemilik sepatu tersebut belum datang.

“Mas, itu sepatu yang Mas pegang punya saya,” ujar seorang pemuda sambil menghampiri Raka.

“Oh, Mas pemiliknya?” tanya Raka.
“Iya, Mas. Tadi jatuh dari motor saya,” jawab pemuda itu.
“Iya, tadi saya menemukannya di sini dan menunggu pemiliknya. Saya kira tidak akan datang,” kata Raka sambil menyerahkan sepatu itu.

“Makasih ya, Mas,” jawab pemuda itu sambil menerima sepatu, lalu melirik ke kaki Raka yang memakai sepatu lusuh.

Setelah itu, Raka bergegas pulang karena sudah terlambat dan belum membantu ibunya bekerja.
“Mas!” pemuda itu memanggil, tetapi Raka belum jauh. Raka menoleh dan kembali menghampirinya.
“Ini sepatunya untuk Mas saja. Mas masih sekolah, kan?” tanya pemuda itu.

“Eh, benar ini, Mas? Iya, saya masih SMP,” jawab Raka.
“Iya, saya lihat sepatu Mas sudah jelek. Jadi saya pikir, sepatunya bisa untuk Mas agar ke sekolah tidak pakai sepatu yang itu lagi,” kata pemuda itu tersenyum.
Raka terdiam sejenak, menatap sepatu baru itu. Hatinya terasa hangat.

“Makasih ya, Mas… saya senang banget,” katanya sambil tersenyum malu.

Pemuda itu mengangguk. “Sama-sama. Sekarang jalan ke sekolah jadi nyaman, kan?”

Raka mengangguk lagi. Ia lalu pamit dan berlari kecil menuju rumahnya, sepatu baru menempel di kakinya. Di sepanjang jalan, Raka merasa lebih ringan, bukan hanya karena sepatunya, tapi juga karena kebaikan orang yang tak ia kenal itu.

Sesampainya di rumah, Raka bingung karena suasana rumah yang sepi. Tak ada ibu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Tak ada ayah yang sedang berbaring di kasur tipis.

“ Raka, ibu dan bapak mu sedang di rumah sakit. Bapakmu makin parah penyakitnya.” salah satu tetangga memberi tahu.

Tanpa banyak drama Raka menuju rumah sakit, jaraknya tak jauh dari rumah. Sesampainya di rumah sakit Raka langsung menuju tempat administrasi, menyebutkan nama ayahnya dan langsung bergegas menuju ruangannya.

Ibu sedang duduk, wajah cemas terlihat dari parasnya.

“Bu, gimana kondisi ayah?”

“Raka, penyakit ayah makin parah. Ayah harus dirawat. Tapi ibu gak punya uang untuk membayarnya.” Kata ibu

“Buu, kalau ibu tidak bisa membiayai perawatan ayah, Raka bisa bantu ibu cari uang.”

“Tapi Raka harus sekolah.”

“Tidak usah, Bu, Raka akan keluar dari sekolah dan membantu ibu mencari uang agar ayah bisa dirawat.”

Setelah percakapan yang panjang. Akhirnya keputusan sudah ditetapkan. Raka akan keluar dari sekolah dan membantu ibunya mencari uang.

Sepatu itu tak pernah sampai ke sekolah karena Raka sudah tidak melanjutkan pendidikannya. Tetapi sepatu itu menjadi saksi bahwa Raka pernah sangat berjuang dalam mencari ilmu.