Oleh: Amira Assyabiya R. Santri-Murid Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Pamotan Rembang
Arkais di kala siang, hiduplah seorang Raja Mesir yang adil dan penyayang hewan. Kehidupan hari-hariannya senantiasa akrab dengan hewan, dan tentu rakyatnya dari kalangan manusia.
Suatu ketika, Sang Raja berjalan-jalan di padang pasir. Ia tak sengaja bertemu seekor semut. Semut ini berbadan kekar, terkesan pemberani, dan cekatan. Semut ini sangat bangga bertemu dengan Sang Raja.
“Halo, Semut. Bagaimana kabarmu?” ucap Raja menanyakan kabarnya.
“Tidak baik, Baginda. Saya sekarang tengah kelaparan. Sejak tadi saya belum makan.” ucap semut dengan lesu.
“Kamu berarti belum makan sejak pagi?” tanya Raja itu.
“Iya, Baginda.” jawab semut.
“Maukah kau kuberi sepotong roti?” ucap Raja.
“Mau, Baginda. Saya sangat mau karena saya kelaparan.” jawab semut dengan antusias.
“Ya sudah, ikut saya ke istana. Akan kujamu kau dengan makanan yang engkau butuhkan, Wahai Semut.”
“Siap, Baginda.” jawab si semut penuh semangat diliputi haru.
Lalu Rajapun mengajak semut pergi ke istana dengan jalan kaki. Perjalanan dari padang pasir ke istana menempuh waktu 25 menit. Dekat bagi raja, cukup jauh untuk seekor semut.
Sesampainya di istana, Raja memasuki suatu tempat yang di dalamnya sudah tersedia sebuah toples yang berisi sepotong roti.
“Kemarah, Makhluk Mungil Berbadan Kekar.” ucap Raja, memanggil dengan sapaan mantap.
“Kata kau, kau ingin makan sepotong roti, bukan?” ucap Raja sembari mengajak semut masuk ke dalam bersama dengannya.
“Ya, Baginda.” jawab semut dengan bahagia.
“Kau mau menghabiskannya? Apakah itu cukup?” tanya Raja.
“Lebih dari cukup, Raja. Terima kasih.” jawab semut sambil menambahkan, “Sepotong roti adalah makananku dalam setahun, Raja.”
“Ya sudah, silakan masuk ke dalam toples itu.” kata Raja sambil menunjukkan posisi toples yang ada dalam ruangan.
“Untuk apa, Raja?” semut masih bertanya.
“Bukankah kata kau butuh makan karena kelaparan dan kau mau sepotong roti itu?” Raja menerangkan.
“Oh, ya sudah, Baginda. Saya siap masuk ke dalam toples itu.” semut akhirnya setuju untuk masuk.
“Baguslah kalau begitu, Semut.” Raja bangga pada semut yang akhirnya mau masuk ke dalam toples. Raja kemudian mengantar Sang Semut untuk masuk dalam toples dan semut pun telah berada di dalam toples. Raja lalu menutup toples dan bergegas meninggalkan si semut. Sebelum pergi Sang Raja meninggalkan sebuah pesan, “Semut, saya akan menutup toples ini hingga 1 tahun kemudian. Ingat ini baik-baik.”
“Siap, Baginda. Apakah Baginda bisa berjanji akan membukakan saya toples ini nanti?” semut masih bertanya.
“Ya, saya berjanji.” kata Raja tegas. Lalu Raja menutup toples berisi roti dan semut kemudian meletakkannya ke dalam ruangan paling pojok di istana. Toples itu terbuat dari bahan khusus yang memiliki desain dan kualitas yang bagus serta mampu memastikan udara tetap masuk ke ruangan toples. Sehingga bisa dipastikan bahwa semut yang ada di dalam tidak kehabisan napas hingga meninggal.
Satu tahunpun berlalu. Raja hampir atas janjinya. Tetapi tiba-tiba Raja teringat ketika menyantap sebuah roti yang tanpa sebab dikirim oleh salah seorang rakyatnya. Raja kemudian sontak berlari ke ruangan pojok.
Sesampainya di dalam ruangan, Raja menyalakan lampu dan bergegas menuju arah meja yang di atasnya masih terletak sebuah toples yang telah ia tinggalkan di sana. Rasanya ia sangat tak sabar untuk membuka toples dan menyaksikan kondisi terkini dari semut kekar.
“Hai, Semut. Bagaimana kabarmu?” sapa Raja dengan senyum semringahnya.
“Sangat baik, Baginda.” jawab semut cukup kaget dengan kehadiran Baginda. Meskipun masa ini adalah masa yang ia nantikan.
Tanpa aba-aba dan basa-basi, Raja tiba-tiba berbicara dengan nada keras, “Lhoo. Mengapa rotimu masih setengah? Bukankah selembar roti adalah ukuran makananmu selama setahun?”
“Iya, Baginda. Ini semua karena saya khawatir Baginda lupa membuka toples ini, sehingga saya menyisakan setengah roti untuk persediaan satu tahun lagi.” jawab semut.
Raja mendengar dengan mata yang berkaca-kaca, merasa bangga, “Wah, hebat sekali kau, Semut! Kamu sangat hemat sekali.”
selesai