Kamis, 25 Oktober 2018. Itulah hari tempat aku sangat menyesal, mengapa aku dilahirkan untuk merasakan sebuah penyesalan ini. Mungkin aku termasuk manusia yang beruntung, tapi menurutku ini semua tak ada apa-apanya. Dan aku tahu persis bahwa semua orang pasti akan merasakan hal yang kini ku rasakan, baik itu orang miskin maupun orang kaya.
Hari demi hari telah ku lewati. Seperti biasa, ku berangkat sekolah dengan sepeda kesayanganku. Dan kebetulan sekali, jam pelajaran di sekolah kosong karena para guru sedang rapat. Akhirnya seluruh siswa dan siswi dipulangkan sekitar pukul delapan pagi. Namun, aku tak memilih tuk pulang duluan, aku lebih memilih pergi ke rumah teman tuk main. Tak terasa sudah satu jam lebih aku lewati tanpa ada sedikitpun rasa ingin pulang ke rumah. Lalu ku putuskan tuk segera pulang. Sesampainya di rumah, aku disambut dengan keramaian yang ada karena suatu persoalan.
Segala pertanyaan muncul di benakku. Apa? kenapa? Bagaimana? Tak ada jawaban yang pasti. Ku lihat ekspreksi bunda yang terlihat kacau balau dan ayah yang terlihat sedang mondar-mandir ke sana ke mari, bingung.
“ Bunda! Bunda ingin pergi kemana?” tanyaku kebingungan.
“Bunda dan ayah ingin pergi ke Rumah sakit, Nak. Kak Rangga kecelakaan,” jawab Bunda dengan wajah panik.
Aku masih belum bisa mengerti perkataan Bunda barusan dan masih menganggap bahwa kejadian itu adalah kejadian yang biasa.
“Kamu di rumah saja sama adik, ya. Nanti Tante Bella jemput kalian ke sini,” suruh Bunda sambil terburu-buru.
Di rumah sendiri, hanya bersama adik. Akhirnya aku terjatuh dalam lamunan tak berarti, masih tak percaya akan kejadian yang barusan terjadi. Entah bagaimana skenario Tuhan ini, tak bisa disangka. Tak lama kemudian Tante Bella datang lalu membawaku dan adikku pergi ke rumahnya. Aku hanya bisa diam, menenangkan diri dan terus berpikir positif.
Berjam-jam aku menunggu kabar dari Rumah Sakit, namun tak ada satu pun berita yang masuk ke telinga. Sekitar pukul tiga sore, akhirnya Kak Fachri, suami Kak Bella datang.
“Maya…..!!”terdengar suara Kak Fachri dari luar kamar.
“Maya lagi tidur sama Adiknya, tuh di kamar!” jawab Kak Bella.
“Maya, bangun….ke Rumah Sakit, yuk. Kak Rangga nanyain kamu tuh!”ajak Kak Fachri.
“Hah!!! Kak Rangga sudah siuman?” tanyaku sambil terkejut.
Selama perjalanan menuju Rumah Sakit, ribuan kalimat hamdalah terus ku kumandangkan dalam hati karena mendengar bahwa Kak Rangga menanyakanku. Ku hentakkan kaki saat ku turun dari motor lalu segera menuju ruang UGD. Terkejut, kebingungan, melihat beberapa pasang mata yang tiba-tiba membengkak dan memerah lalu disusul dengan bunda yang tak kuasa menahan hingga tiba-tiba pingsan. Ku jatuhkan tubuhku dalam pangkuan ayah hingga pikiranku pergi kemana-mana karena tak percaya akan semua hal yang telah terjadi hari ini.
Belum sempat melihat ataupun mencium tangan Kak Rangga, aku harus segera pulang terlebih dahulu karena jasad Kak Rangga akan segera dibawa pulang. Tak kuasa melihat semua kejadian yang telah terjadi, akhirnya aku menangis dalam pelukkan ayah lalu mengadu pada Sang Maha Esa bahwa aku sangat menyesal. Sesampainya di rumah, tujuan pertamaku adalah kamar mandi. Lalu ku terduduk di samping lemari pendingin dan kemudian jatuh kembali dalam tangisan yang menyesakkan ini.
Tak lama kemudian jenazah Kak Rangga tiba di rumah dan kemudian di tempatkan di atas ranjang,namun ku tak sedikit pun beranjak dari tempat dudukku dan tak ada keinginan tuk melihat wajah Sang Kakak tuk terakhir kalinya hingga Sang Kakak dimakamkan di pemakaman setempat. Karena menyesali perbuatanku barusan, tiba-tiba selera makanku hilang selama seminggu.
“Kak Maya sudah shalat, belum?” tanya Bunda.
“belum Bun, ini mau wudlu dulu….” jawabku.
“Yaudah sana segera shalat terus jangan lupa doa’in Kak Rangga yaa…..” pesan Bunda.
“siap!!!….” seruku.
Setelah selesai wudlu, tiba-tiba ku teingat sesuatu
“Astaghfirullaahal’adziim….oh iya, aku belum shalat Dzuhur!!!”ucapku dalam hati.
“Ya Allah…..apakah engkau mengambil Kak Rangga karena aku lupa melaksanakan perintahmu?” tanyaku.
Lalu ku segera melaksanakan shalat dan segera memohon ampun padanya. Dalam doaku, ku menangis dalam diam. Berharap agar semua kembali seperti semula, tak ingin kejadian seperti ini menipa lagi, aku belum siap. Dan aku menyesal, karena ku belum bisa membahagiakan Kak Rangga di masa-masa terakhirnya, tapi malah menyusahkannya dengan semua keegoisanku.
“Teruntuk Kakakku, terima kasih atas segala kebahagiaan yang telah kau korbankan untukku. Dan maaf karena aku hanya bisa mengecewakan mu bukan membahagiakan mu. Dan kelak, kita akan dipertemukan dan dikumpulkan kembali di tempat yang abadi, selamanya.
Oleh: Siti Nafidzatun Naylia, Santri Remaja kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon (Planet NUFO) Rembang asal Pati
