Oleh: Achmad Yusuf Uwaisiy Rachman, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon Rembang asal Jepara

Kejadian ini bermula pada suatu pagi. Saat bayangan pohon mulai memanjang, menandakan sang surya akan segera bersinar kembali, aku bersiap menuju kandang ayam untuk memulai kegiatan pagiku sebelum KBM dimulai.

Setibanya di kandang, aku dikejutkan oleh salah satu ayamku yang terlihat lemas dan hanya terbaring diam. Setelah kuperiksa lebih teliti, ternyata ayam tersebut sedang sakit.

Tanpa berlama-lama, aku segera membawa ayam itu ke Ustadz Su’ud untuk diperiksa.

“Assalamu’alaikum, ust. Ini ada ayam yang sakit,” panggilku.

“Ini ayammu sakit apa, Wais? Kok bisa begini?” tanyanya.

“Saya kurang tahu tentang penyakit ini, ust,” jawabku.

Tanpa berpikir lama, Ustadz Su’ud langsung mengamati kondisi ayam tersebut. Setelah cukup lama diperiksa, beliau tidak dapat memastikan jenis penyakitnya. Akhirnya, beliau menyuruhku mengambil pisau untuk menyembelih ayam tersebut agar penyakitnya tidak menyebar ke ayam lain.

Keesokan harinya, aku masih mencoba menyelidiki jenis penyakit yang menyerang ayam kemarin. Namun sebelum menemukan jawabannya, aku kembali mendapati dua ekor ayamku terkena penyakit yang sama.

“Ust, ini ada ayam yang terkena penyakit kemarin. Sepertinya menular,” kataku.

“Kamu sudah kasih jamu kemarin, Wais?” tanyanya.

“Sudah, ust. Saya kasih jamu KUTEJA.”

Namun takdir berkata lain. Dua ayam itu kembali berpulang kepada Yang Maha Kuasa. Di titik ini, pikiranku mulai kacau. Hanya peternak yang tahu bagaimana rasanya melihat hewan ternaknya hilang satu per satu.

Keesokan harinya, aku kembali menemukan tiga ekor ayamku tertular penyakit tak dikenal itu. Pikiranku benar-benar kalut. Aku harus memikirkan KBM, sekaligus mencari cara untuk mencegah penyakit tersebut agar tidak semakin meluas.

Akhirnya, aku mencoba meminta saran kepada Bang Sabil.

“Bang Sab, kamu tahu obat dari penyakit ayam ini nggak?” tanyaku sambil memperlihatkan ayam tersebut.

“Ini, Wais, kamu sudah kasih alkali di air minumnya?” tanyanya.

“Sudah, bang. Apalagi?”

“Kalau sudah, saya juga kurang tahu, Wais. Soalnya alkali itu satu-satunya obat cair pengganti vaksin.”

Sampai saat ini, jenis penyakit tersebut masih belum kutemukan obatnya.

Bersambung…