Oleh: Bisma Lingga Wijayanto, Santri-Murid Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Kabupaten Semarang

“Duarrr!”

Suara ledakan dahsyat menggema dari gunung berapi purba yang telah tidak aktif selama kurang lebih sepuluh juta tahun. Tahun ini adalah tahun 5.500, tepatnya tanggal 31 Desember—malam pergantian tahun, saat teknologi telah berkembang jauh melampaui imajinasi manusia.

Beribu-ribu tahun sebelumnya.

“NOCTAR! Sudah berapa kali kamu Ibu bilang, jangan tidur di kelas!”

Bu Marni memarahi Noctar yang tertidur pulas di bangku belakang.

“Kringg!!!”

Bel pulang berbunyi nyaring.

“Yey, pulang!” sorak para murid serempak.

“Baik, anak-anak, karena bel sudah berbunyi, kita cukupkan pelajaran hari ini,” ujar Bu Marni sambil menutup buku.

Noctar melangkah keluar kelas bersama sahabat terbaiknya, Grizz. Noctar dikenal sebagai siswa misterius karena jarang bersosialisasi, kecuali dengan Grizz yang selalu menemaninya.

“Tar, kamu tidur jam berapa semalam? Nggak biasanya kamu ketiduran pas pelajaran sejarah. Biasanya kamu paling semangat,” tanya Grizz heran.

“Aku nggak tidur,” jawab Noctar sambil menguap. “Aku lanjutin proyek eksperimen yang kuceritain ke kamu kemarin.”

“Udah deh, Tar. Nggak bakal bisa bikin portal ke masa depan,” ujar Grizz setengah bercanda.

“Ngapain? Proyeknya udah selesai. Tadi malam sempat aktif, tapi aku nggak tahu ke mana arahnya,” jawab Noctar santai.

“Masa sih? Serius?” mata Grizz membesar penuh antusias.

“Datang aja ke rumahku kalau nggak percaya.”

Sore mulai merambat turun. Grizz melangkah menyusuri jalan berbatu menuju rumah Noctar, yang terletak agak jauh dari pemukiman. Pepohonan tinggi mengelilinginya, dengan pagar besi tua berkarat. Dari luar, rumah itu tampak sunyi dan sedikit menyeramkan.

“Tar ini bener-bener nggak normal,” gumam Grizz sambil menekan bel.

Pintu terbuka. Noctar berdiri dengan mata sayu dan rambut acak-acakan, namun senyum tipis tersungging di wajahnya.

“Masuk.”

Grizz langsung terpana. Ruang bawah tanah dipenuhi kabel, layar hologram, tabung energi, dan simbol-simbol aneh di dinding. Di tengah ruangan berdiri sebuah lingkaran logam besar dengan inti cahaya biru keunguan yang berdenyut pelan.

“Itu… portal?” bisik Grizz.

Noctar mengangguk. “Aku nemuin rumusnya dari naskah kuno yang aku gabungin sama teknologi kuantum.”

Tiba-tiba, inti portal bergetar. Warnanya berubah dari biru menjadi merah menyala.

“Tar… itu kenapa?” suara Grizz bergetar.

“No… ini nggak seharusnya terjadi!” Noctar mengetik cepat di panel kontrol.

Namun semuanya terlambat.

“DUARRR!!!”

Ledakan kecil mengguncang ruangan. Portal menghisap udara di sekitarnya, menciptakan tarikan kuat. Grizz terlempar dan kehilangan keseimbangan.

“NOCTAR!!!” teriaknya sambil berusaha meraih tangan sahabatnya.

Cahaya putih menyilaukan memenuhi ruangan.

Dan dunia pun terbalik.

Saat Noctar membuka mata, hawa panas menyengat kulitnya. Bau belerang menusuk hidung. Langit berwarna merah gelap, dipenuhi kilatan cahaya aneh. Bangunan logam raksasa berdiri runtuh, sebagian meleleh seperti lilin terbakar.

Sebuah suara berat menggema dari balik kabut.

“Selamat datang… di akhir peradaban.”

Noctar menelan ludah.

Ia sadar—portal itu tak membawanya ke masa depan yang gemilang, melainkan ke masa depan yang hancur.

Asap hitam menari di udara. Tanah di bawah kakinya retak, memancarkan cahaya merah redup.

“Grizz…” bisiknya panik.

Tak ada jawaban.

“Noctar…”

Suara itu terdengar berat, dingin, dan bukan suara Grizz.

Noctar menoleh. Dari balik asap muncul sosok berjubah hitam. Tubuhnya tinggi, wajahnya tertutup topeng retak dengan cahaya merah menyala di baliknya.

“Siapa kau?” tanya Noctar gemetar.

Sosok itu tertawa pelan.

“Terlalu dini untuk pertanyaan itu… tapi tidak untuk kebenaran.”

Ia melangkah mendekat. Setiap langkah membuat tanah bergetar.

“Kau berhasil, Noctar. Portal itu adalah awal dari semuanya.”

“Apa maksudmu?” Noctar mundur.

Sosok itu berhenti di tepi dataran tinggi. Dari sana terlihat jelas sebuah gunung berapi purba yang meletus hebat.

“Ledakan itu,” ucapnya lirih, “terjadi karena kamu.”

Noctar membeku.

“Mustahil…”

“Kau menciptakan teknologi yang melampaui zamannya. Kau membuka celah waktu. Dan dari celah itulah… kehancuran lahir.”

Sosok itu perlahan melepas topengnya.

Noctar terperanjat.

BERSAMBUNG….