“Tidak ada jam ketiga belas.”

Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan orang-orang di sekitar.

Namun, sejak pindah dari kota ke rumah tua di desa bernama Gang Bangao, Kona mulai mendengar bunyi aneh dari belakang rumah setiap malam. Bunyi itu biasanya terdengar tiga sampai lima kali. Tapi kali ini berbeda. Suara itu terdengar tiga belas kali.

Rumah itu adalah warisan leluhur mereka yang diwariskan turun-temurun. Namun, rumah tersebut pernah kosong selama dua puluh tahun setelah kakek mereka meninggal di sana. Orang-orang desa menyebutnya sebagai “rumah yang seharusnya tidak ada.”

Kona hanya terlihat biasa saja saat mendengar cerita warga desa.

Tetapi suasana berubah ketika suatu hari Kona berjalan melewati kamar mendiang kakeknya. Saat itu ia sedang sendirian di rumah. Ketika melewati kamar tersebut, ia kembali mendengar suara aneh itu.

Tok… tok… tok…

Suara itu terdengar tiga belas kali.

Karena penasaran, Kona perlahan mendekati kamar kakeknya.

Saat sudah berada di depan pintu, Kona mencoba membuka kamar itu. Namun ternyata pintunya terkunci.

Rasa penasaran membuat Kona memberanikan diri mendobrak pintu kamar tersebut. Saat pintu terbuka, Kona terkejut bukan main ketika melihat jasad kakeknya yang belum dikuburkan.

Kona langsung berteriak hingga kedua orang tuanya datang menghampiri.

“Ada apa, Kona?” tanya Ayah.

“I-Itu… kok ada mayat Kakek?” jawab Kona dengan ketakutan.

“Mana ada mayat Kakek? Kakek sudah dikubur. Tidak mungkin mayatnya masih di sini,” ucap Ibunya.

Mereka pun kembali ke kamar masing-masing.

Saat malam tiba, Kona terbangun dari tidurnya. Ketika melihat jam, ia terkejut karena jarum jam menunjukkan angka tiga belas.

Kona mengira dirinya kesiangan. Namun saat melihat keluar jendela, langit masih gelap gulita.

Ia merasa aneh. Jam menunjukkan siang, tetapi suasana masih malam.

Saat hendak kembali ke kamar, Kona melihat pintu kamar kakeknya sedikit terbuka. Tiba-tiba terdengar lagi suara aneh dari dalam kamar itu.

Tok… tok… tok…

Meski masih takut karena kejadian sebelumnya, rasa penasaran Kona kembali muncul. Ia berjalan perlahan mendekati kamar sang kakek sambil menghitung jumlah suara itu.

Satu… dua… tiga…

Hingga suara tersebut berhenti tepat di hitungan ketiga belas.

Kona semakin heran mengapa suara itu selalu muncul tiga belas kali.

Saat Kona tepat berada di depan pintu, ia perlahan membukanya. Namun, baru saja pintu terbuka sedikit, tiba-tiba ada sesuatu yang menariknya masuk ke dalam kamar.

“Ibuuuu!!” teriak Kona sekuat tenaga.

Teriakan Kona membangunkan seluruh penghuni rumah. Semua langsung berlari menuju kamar sang kakek.

“Kona, kamu kenapa, Nak?!” teriak Ibu panik.

Saat Ayah dan Ibu tiba di depan kamar, mereka terkejut melihat bayangan Kona melayang di dalam ruangan.

“Kak Kona kenapa terbang, Bu?” tanya adiknya polos.

“Nanti dulu! Ibu harus menyelamatkan Kakak!” jawab Ibunya.

Ayah berusaha membuka pintu yang tiba-tiba terkunci rapat.

Setelah berhasil mendobrak pintu, mereka melihat Kona terbaring pingsan di lantai. Ayah segera menggendong Kona dan membawanya kembali ke kamar.

Keesokan harinya, Kona terbangun dari pingsannya dan langsung bertanya tentang kejadian malam sebelumnya.

“Ayah, tadi malam waktu aku ke kamar Kakek, aku kenapa? Kok tiba-tiba seperti tidur?” tanya Kona.

“Kemarin kamu kesurupan. Waktu Ayah masuk, kamu sudah pingsan. Jadi Ayah langsung membawa kamu ke kamar,” jawab Ayah.

Sejak kejadian itu, Kona mengalami trauma terhadap rumah kakeknya. Mulai saat itu, mereka tidak pernah lagi pergi ke kampung sang kakek.

Tamat.

Oleh: Adam Mahir Zain, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) asal Bogor