Di sebuah sekolah bernama SMP Mulia Cipta sedang kedatangan siswa baru. Siswa itu berkacamata dengan gaya rambut garis tengah. Saat memperkenalkan diri, ada 3 anak nakal yang sedang berbisik, sebut saja namanya, Raka, Bagas, dan Kiki. Mereka sedang merencanakan niat jahat kepada siswa baru tersebut yang bernama Dody. Ibu guru yang melihat kelakuan mereka bertiga itu hanya bisa menggelengkan kepala.
Akhirnya Dody pun dipersilahkan duduk di salah satu bangku. Saat jam pertama, Raka, Bagas, dan Kiki memulai niat jahat mereka. Mereka melempari Dody dengan kertas bekas yang diremukkan. Sebagai siswa baru, Dody hanya bisa pasrah. Ibu guru yang mengetahui hal itu langsung menghukum ketiga anak tersebut dengan hukuman membersihkan ruang kelas sebelum mereka beristirahat.
Kemudian, dendam pun muncul di hati mereka. Akhirnya, Raka, Bagas, dan Kiki dapat beristirahat setelah selesai melaksanakan hukuman. Mereka hendak menuju lapangan, tepat di depan mereka terlihat Dody yang hendak menuju kelas. “Hey!, berikan uangmu!” pinta Raka. ”Saya hanya punya ini,” jawab Dody sembari menunjukkan uangnya yang bernilai Rp10.000.
“Udah, bawa sini uangnya!” bentak Raka seraya merampas uang yang dibawa Dody. Dody hanya bisa merelakan uang miliknya dirampas.
Bel berbunyi, menandakan jam pelajaran kedua akan dimulai.
Jam pelajaran kedua pun tiba, Bagas merencanakan aksinya. Ia melempar pulpen ke arah papan tulis yang di situ terdapat Ibu Guru yang sedang menerangkan materi pelajaran. ”Siapa yang melempar pulpen ini?” tanya Ibu Guru dengan nada sedikit tinggi. ”Dody, Bu,” jawab Bagas sambil menyimpan kebohongan.
“Kok, perasaanku agak nggak enak, ya? Padahal Dody murid baru di sini, tiba-tiba saja ia membuat kesalahan di dalam kelas. Ada yang tidak beres di sini,” gumam Ibu Guru dalam hati. Ibu guru pun tak peduli dengan kejadan itu, ia langsung menerangkan kembali materi yang dijelaskannya tadi.
Sepulang sekolah, Dody mendapat kabar dari salah satu temannya bahwa neneknya sedang sakit. Ia bergegas menuju rumah dan ingin segera menjenguk neneknya.
Sesampainya di rumah, Dody mencari sang nenek di kamarnya. ”Cari apa, Nak?” tanya Ibu Dody yang kebetulan lewat di sampingnya. ”Cari nenek, bu. Apa benar nenek sakit, Bu?” jawab Dody sembari menanyakan keadaan neneknya. ”Iya, sekarang nenek sedang dibawa ke rumah sakit,” jawab Ibu dengan raut muka sedih. ”Aku harus mejenguk nenek ke rumah sakit,” Dody berkata dalam hati. Akhirnya Dody memutuskan untuk mejenguk neneknya setiap pagi sebelum sekolah dan membawakannya makanan serta buah-buahan kesukaan neneknya.
Esoknya, Dody mengerjakan apa yang ia putuskan kemarin. Ia membawakan neneknya makanan serta buah-buahan sebelum berangkat ke sekolah. Akhirnya ia sering terlambat dan ditegur oleh ibu guru. “Dody, kenapa kamu sering terlambat?” “Maaf, Bu. Nenek saya sedang sakit, jadi saya harus mengirim makanan dan buah-buahan setiap pagi untuk nenek saya, Bu”.
Tak lama kemudian, Raka, Bagas, dan Kiki menyahut. ”Jangan alasan kamu, Bocah!” ejek Kiki. ”Tau tuh,” balas Raka. “Hukum aja, Bu!” tegur Bagas. “Sudah, sudah Ibu mengerti, kok,” jawab Ibu lembut.
Beberepa hari kemudian, nenek Dody meninggal. Nyawanya sudah tak tertolong, akibat sesak napas yang sudah sangat parah. Akhirnya hari itu Dody tidak masuk sekolah, tanpa ada keterangan apapun.
“Tuh kan, Bu. Sekarang Dody malah tidak masuk,” sindir Kiki. “Iya, ya. Kenapa, ya?” tanya Ibu guru bingung. “Dihukum saja, Bu,” usul Raka. “Jangan, mungkin ada hal yang tak sempat tersampaikan. Lagian dia juga anak baru di sini, masak mau langsung Ibu hukum,” jelas Ibu Guru.
Keesokan harinya, “Dody, kenapa kamu kemarin tidak masuk, Nak?” tanya Ibu Guru. “Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Kemarin saya belum sempat membuat surat izin kepada Ibu Guru, karena nenek Dody meninggal, Bu,” jelas Dody dengan nada sedih. Mendengar hal itu, Ibu guru turut sedih dan suasana kelas menjadi hening. Tak lama kemudian, Dody mulai menitikkan air mata, Ibu Guru langsung merangkul Dody yang sedang berkeringat dingin. “Raka, Kiki, apa sebaiknya kita minta maaf aja yuk sama Dody,” usul Bagas yang mulai terbuka hatinya. “Iya, ya. Kita udah banyak melakukan kesalahan sama Dody,” ujar Raka setuju. “Ya udah yuk, kita samperin si Dody,” ajak Kiki. “Dody, kami minta maaf ya. Atas kesalahan kami selama ini.” “Iya, tidak apa-apa,” balas Dody dengan ikhlas.
Oleh: Muhammad Faza Muqowwam, Santri Remaja Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Mlagen Rembang asal Rembang
