oleh: Fahma Kaifia Deena, Santri-Murid Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon asal Semarang
Bumi adalah tempat yang amat luas. Manusia berlomba-lomba untuk mencari semua pengetahuan yang belum ditemukannya.
Di salah satu sisi bumi yang letak pastinya tak dikenali, hiduplah seorang anak mungil dengan penuh damai. Dalam rumah yang terbilang kecil, yang ia sebut rumahnya sebagai Xavierra, si mungil tinggal sebatang kara. Ia ditinggalkan oleh kedua orangtuanya semasa berusia 5 tahun. Namun, kepergian orang tuanya mewariskan suatu hal yang baginya amat berharga di dunia. Inilah stroberi pelangi.
Stroberi Pelangi, stroberi yang unik. Keunikannya tampak ketika masih menjadi bunga. Bunganya berwarna hitam pekat bagai bunga kutukan. Namun tatkala mulai tumbuh, ia berwarna bak pelangi. Ya, pelangi. Atas buah stroberi merah, bawahnya jingga, ke bawah kian menguning, lalu hijau, kian biru, memekat, hingga paling bawah memudar menjadi putih.
Stroberi pelangi bukan hanya cantik penampilannya, tetapi manis pula rasanya. Stroberi ini ditumbuhkan dan dikembangbiakkan oleh si mungil sebatang kara, Luna. Ia satu-satunya pemilik kebun unik ini. Penduduk Negeri Xavierra tidak ada yang mampu menanamnya walau sudah mencoba berulang kali. Tapi begitulah, selalu berakhir gagal.
Hakan dan Kai adalah dua nama yang masuk pula sebagai penduduk Xavierra, yang telah mencoba untuk menanam stroberi pelangi. Mereka merupakan sepasang suami istri yang terkenal tidak pernah gagal menanam apapun. Tapi anehnya, mereka mengalami kegagalan 5× dalam menanam stroberi pelangi.
“Istriku, ini sudah kali ke-6 kita menanam stroberi pelangi dan selalu gagal. Apa yang salah dari metode menanam kita?” keluh Hakan saat melihat 8 dari 10 stroberi pelangi mereka gagal panen dan mengering, padahal saat itu adalah musim hujan
“Aku tidak tahu, kemarin kulihat kebun stroberi pelangi Luna tumbuh subur, buahnya lebat tak terkira. Entah pupuk apa yang ia taburkan.” Hakan dan Kai hanya mengembus napas kasar, menggerutu angkuh.
**
Berbeda dengan Luna. Di rumah jamur milik Luna, ia terlihat sedang berkomunikasi aktif dengan sahabatnya via telepon. Sahabatnya nun jauh di sana, Negeri Surra.
“Bagaimana kabarmu, Sar? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Luna.
“Masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada perubahan. Namun, stroberi pelangimu ternyata sungguh ajaib. Membuatku terus bertahan hingga hari ini.” laporan Caesar di telepon.
“Namun, Lun. Tumben kau mengirim sedikit stroberi pelangi. Apakah kau sedang mengalami kesulitan? Jika iya, kau tak perlu mengirimiku buah lagi.” imbuhnya perlahan.
“Hah, aku mengirim 30.000 buah stroberi pelangi untuk kau konsumsi selama sebulan.” Luna menjawab keras, tersinggung.
“Lho, aku hanya menerima 15.000 buah, Lun.”
Luna keheranan, “Ini pasti ulah si Dana, tukang paket itu. Pasti ia mengambil setengah untuk ia jual. Huh!”
“Tidak apa-apa, Luna. Tak perlu mecurigai siapapun juga. Kita sama-sama tahu, kan. Banyak orang yang mengejar stroberi pelangimu itu.” Caesar menduga dan menenangkan.
“Bagaimana, apa perlu kau bagikan cara membudidayakan stroberi pelangimu yang penuh khasiat itu?” pertanyaan Caesar belum terjawab. Tiba-tiba telepon terputus.
selesai