Saya, Atana Hokma Denena, akan menjelaskan sistem dan keunikan pesantren Planet Nufo dibandingkan dengan pesantren lain. Yuk, baca sampai selesai yaa. Tidak seperti kebanyakan pesantren di Indonesia, yang sering kali memberikan banyak privilege kepada para gus (anak kiai) — termasuk saya — di Planet Nufo semua orang diperlakukan setara, tanpa memandang latar belakang kekayaan atau keluarga.
Memang, saya juga mendapat sedikit keistimewaan. Namun, bukan hanya saya; di luar sana, ada gus yang bahkan dibolehkan tidak ikut salat berjamaah atau bebas keluar masuk pondok. Tapi di Planet Nufo, semua santri diperlakukan sama. Misalnya, jika ada seseorang yang mendapat dukungan untuk membuka usaha, maka semua santri yang ingin membuka usaha juga akan diberi kesempatan dan fasilitas serupa, biasanya berupa tempat usaha dan modal awal.
Namun begitu, setelah menerima modal, santri tidak boleh bermalas-malasan. Bayangkan, sudah diberi modal untuk memulai usaha, tapi tidak dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Bukankah itu tidak etis? Maka dari itu, sistem di Planet Nufo mengedepankan prinsip reward and punishment agar santri semangat dalam berwirausaha.
Selain itu, tidak seperti kebanyakan pesantren, Planet Nufo dikelilingi oleh banyak tanaman, baik di dalam area pesantren maupun di sekitarnya. Jenis pohon yang paling banyak adalah kersen, karena mudah dirawat dan memiliki banyak manfaat kesehatan seperti membantu mengatasi asam urat dan anemia, menyehatkan pencernaan, mengontrol kadar gula darah, menjaga kesehatan jantung, hingga meningkatkan sistem imun.
Selain kersen, juga terdapat berbagai tanaman yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti cabai, terong, kelor, bayam, kangkung, wortel, dan lainnya. Santri yang mengurus kebun akan mendapatkan upah sebagai uang saku tambahan. Biasanya, tiap santri memilih satu jenis tanaman untuk dirawat, meskipun ada juga yang merawat lebih dari satu. Kegiatan berkebun ini bukan hanya untuk menambah uang saku, tapi juga menjadi media latihan jiwa kewirausahaan bagi para santri.
Bangunan-bangunan di Planet Nufo juga sangat unik. Misalnya: gorong-gorong, kepang, dan sesek. Gorong-gorong di sini bukan pipa saluran air, tapi tempat tinggal berbentuk tabung yang diletakkan horizontal. Di bagian bawahnya dipasang kayu agar bisa digunakan sebagai loker penyimpanan. Satu unit biasanya dihuni tiga sampai lima orang.
Kepang adalah rumah yang terbuat dari anyaman bambu (gedhek) yang disusun seperti kepangan. Bangunan ini terinspirasi dari rumah tradisional Jawa Timur dan Aceh, dan biasanya dihuni oleh tujuh sampai sepuluh orang. Desain ini dipilih karena Planet Nufo bercita-cita menjadi pesantren bertaraf nasional hingga internasional.
Sesek adalah bangunan berbentuk tabung dengan atap seperti kerucut terbalik. Hampir mirip dengan kepang, namun ukurannya lebih kecil dan biasanya dihuni oleh satu sampai dua ustadz atau ustadzah, karena diameternya yang terbatas.
Tak hanya itu, beberapa ratus meter di sebelah timur Planet Nufo, terdapat bangunan berbentuk kotak yang dinamakan Ka’bah. Bangunan ini memang dibuat untuk mengimitasi Ka’bah, meskipun tampilannya hanya berwarna putih. Bagian dalamnya dihiasi lukisan-lukisan karya para santri Nufo, kebanyakan dari mereka adalah alumni.
Di samping bangunan Ka’bah, ada sawah tempat para santri bercocok tanam. Dan di sebelah sawah itu, terdapat kandang burung puyuh yang dikelola oleh santri dari Program Tahfidz 10 Bulan (disingkat PT Sepuluh). Meskipun disebut “sepuluh bulan”, nyatanya program ini belum selesai hingga saya menulis ini. Para pesertanya adalah mahasantri yang memutuskan untuk tetap tinggal di Planet Nufo dalam waktu tertentu.
Itulah beberapa keunikan Planet Nufo. Mungkin masih banyak lagi keunikan lainnya yang belum saya sebutkan. Tapi untuk sekarang, saya cukupkan sampai di sini dulu.