Oleh: Sulthan Murad Arkan Nurrahmat, Santri-Murid Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Karawang

Langit bergemuruh di atas seorang pemuda yang berdiri menatap makhluk hidup yang sangat ia benci. Anehnya, ia tampak begitu tenang, padahal di hadapannya berdiri seekor beruang grizzly besar.

Tanpa ragu, pemuda itu menghunus pedangnya dan mengarahkannya ke arah sang beruang.

Ia melangkah maju dengan santai.

Dalam sekejap…

Kepala beruang itu telah terjatuh ke tanah.

Pemuda itu menghela napas pelan.
“Kenapa hari ini aku merasa sangat bosan? Padahal sekarang aku bisa berjalan-jalan dengan tenang. Apa karena beruang itu terlalu lemah?”

Ia tampak kesal pada dirinya sendiri.

“Sepertinya aku harus segera pulang. Toh, sebentar lagi hujan turun,” gumamnya dalam hati.

Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang pendaki di kejauhan. Orang itu tampak berjalan tanpa arah, seperti tersesat.

“Haruskah aku membantunya… atau tidak?” pikirnya.

“Kau harus membantunya. Dia gadis yang malang,” kata suara malaikat di sebelah kanannya.

“Sudahlah, pulang saja. Sebentar lagi hujan,” sahut iblis di sebelah kirinya.

Pemuda itu menghela napas panjang.
“Kalian berdua berisik sekali. Beri aku waktu istirahat. Aku sudah lelah mendengar perdebatan kalian.”

“Maaf, aku hanya menyampaikan pendapatku,” jawab malaikat itu lembut. “Lagi pula, kami memang malaikat dan iblis. Wajar kalau berbeda.”

“Hei, Ryutsu,” kata iblis sambil menyeringai. “Kau sudah mengenal kami sejak kecil. Masa masih belum terbiasa?”

Ryutsu menutup matanya sejenak.

“Baiklah. Sepertinya aku harus membantu pendaki itu.”

Ryutsu berjalan mendekati sosok tersebut.

Semakin dekat, ia mulai merasa ada yang aneh.

Wanita itu berjalan tanpa arah. Dan kini ia menyadari sesuatu—mata wanita itu tertutup kain hitam.

Padahal dari kejauhan tadi, ia yakin tidak melihat penutup mata apa pun.

Ryutsu menghentikan langkahnya.

Aura dingin menyelimuti udara.

Barulah ia sadar, sosok di hadapannya bukan manusia biasa.

Ia adalah arwah gentayangan.

Rumor yang pernah ia dengar terlintas di benaknya:
Seorang wanita bermata tertutup kain hitam, membawa pedang di pinggang kanannya, tersesat selamanya di gunung ini.

“Jadi itu kau…” gumam Ryutsu.

Tanpa menunggu lama, ia menghunus pedangnya.
“Sepertinya aku harus melawanmu.”

Dalam hitungan detik, Ryutsu melesat.

Pertarungan pun dimulai.

“TRANG!”

Arwah itu menangkis serangannya dan segera membalas. Namun Ryutsu telah memprediksi gerakannya. Ia memutar tubuh dan menggunakan serangan pembalik.

Pedangnya mengenai tubuh sang arwah.

Sosok itu terluka.

Arwah itu mengamuk. Niat membunuh yang mengerikan menyebar ke seluruh penjuru. Bahkan seorang ahli pedang yang telah berlatih sepuluh tahun pun mungkin akan berpikir dua kali untuk menghadapinya.

Namun Ryutsu tetap tenang.

“Baiklah,” katanya pelan. “Akan kubunuh kau dengan damai.”

Ia menarik napas dan menggunakan teknik andalannya.

Tebasan Hati Malaikat.

Satu tebasan bersih.

Cahaya berkilau menyambar.

Arwah itu terdiam, tak mampu bergerak lagi.

Sesaat kemudian, cahaya turun dari langit dan menyelimuti tubuhnya.

“Sepertinya arwahnya sudah menuju Nirwana,” kata Ryutsu pelan.

“Sepertinya begitu,” jawab malaikat di kanan.

“Iya, sepertinya sudah sampai,” sahut iblis di kiri.

Ryutsu menyarungkan pedangnya.

“Kalau begitu, ayo kita pulang. Setelah ini aku ingin berpesta kecil.”

Malam itu, Ryutsu kembali ke rumahnya.

Namun bukannya berpesta, ia langsung tertidur begitu sampai.

Hari yang melelahkan bagi seorang ahli pedang.

Tamat.