Oleh: Husna Kamila Anwar, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Kota Semarang

Untuk kesekian kalinya, para orang tua berkata kepada anak-anak mereka, “Jangan pergi ke laut saat senja!”
Dan ketika anak-anak bertanya, “Kenapa?”
Mereka hanya menjawab, “Karena ada hantu.”

Di sebuah rumah di pedesaan, hiduplah seorang anak lelaki berambut ikal cokelat, berkulit tan, dan bermata biru laut. Namanya Caspian.

Orang tua Caspian tidak pernah melarangnya melakukan apa pun. Mereka sibuk berlayar dan berkebun. Karena itu, Caspian terbiasa mandiri—meskipun sering kali ia dititipkan kepada bibinya.

Kecuali satu hal.

Laut.

Ke sanalah ia dilarang keras pergi, terutama saat senja.

Caspian tinggal di sebuah pulau terpencil. Pulau itu sangat cantik, namun liar. Banyak tempat yang dianggap tabu, termasuk lautan—tempat yang justru paling ia sukai.

“Caspian,” panggil ibunya.

“Kenapa, Bu?”

“Tolong bantu Ibu bawa hasil panen.”

“Ya, sebentar.” Caspian menghampiri ibunya dan mengambil keranjang.

“Terima kasih, Pi.”

“Sama-sama.” Ia meletakkan keranjang itu di dapur.

“Pi, Ibu mau tanya sesuatu. Jawab jujur, ya?”

“Iya.”

“Ibu dan Ayah mungkin akan pergi besok. Bibimu sedang sibuk akhir-akhir ini. Ibu akan menitipkanmu padanya, tapi Bibi mungkin tidak bisa sering mengurusmu. Kamu tidak apa-apa?”

Caspian terdiam. Huh, pergi lagi, pikirnya.

“Kalau aku tidak mau, memang ada pilihan lain?”

“Sebenarnya tidak. Tapi Ibu akan berusaha.”

“Ibu mau pergi kapan?”

“Mungkin besok. Belum pasti.” Ibunya memeluknya.
“Jangan murung. Ibu hanya akan berlayar satu hari. Kalau jadi, lusa mungkin sudah pulang.”

“Baiklah. Tapi… bolehkah aku pergi ke laut saat senja? Pasti indah sekali.”

Ibunya terdiam sejenak.
“Sayangnya tidak.”

“Kenapa?”

“Kamu akan tahu pada waktunya.”
Ia melepas pelukannya. “Sekarang mandi.”

“Bu—”

“Harus.” Ibunya menyeretnya sambil tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, ayahnya pulang.

“Ayah baru selesai?” tanya Caspian.

“Tidak. Tadi berbicara dengan Bibimu.”

“Tentang pergi besok?”

“Iya. Dan… tentang kamu juga.”

“Kenapa?”

“Nanti kamu juga tahu. Sekarang, ayo makan malam.”

Mereka makan bersama. Setelah itu, orang tua Caspian menyuruhnya masuk ke kamar karena ingin berbicara berdua. Namun Caspian diam-diam menguping.

“Kau ingin mengajaknya ke laut?” suara ibunya terdengar tegas.
“Aku tak percaya itu. Caspian terlalu menyukai laut. Kau ingat apa yang pernah terjadi?”

“Tentu aku ingat,” jawab ayahnya pelan.

Saat itu Caspian berumur empat tahun. Ia bermain di tepi laut saat senja. Tak lama kemudian ia menghilang—terseret ombak ke tengah. Ayahnya yang menemukannya, syok setengah mati. Ibunya bahkan pingsan dua jam.

Matanya tertutup. Kulitnya pucat. Mengingatnya saja terasa mengerikan.

“Karena itu, jangan bawa dia ke laut,” kata ibunya.

“Aku tidak bisa. Dia juga harus mendengarnya. Suara-suara itu semakin kuat.”

“Aku juga kadang mendengarnya… tapi tetap saja—”

“Tenanglah. Aku tidak akan membiarkannya sendirian.”

Ibunya menghela napas panjang.
“Baiklah. Ajak aku juga.”

Seperti yang dijanjikan, keesokan harinya mereka pergi ke laut saat senja.

Akhirnya, aku bisa menghirup udara asin sambil memandang matahari terbenam, pikir Caspian.

“Caspian, ayo ke tengah,” ajak ayahnya.

“Oke.”

Saat berada agak jauh dari tepi, tubuh Caspian mendadak kaku.

Ia mendengarnya.

Suara-suara itu.

Banyak. Bertumpuk. Berbisik. Mengeluh.

“Caspian, kau mendengarnya?” tanya ibunya pelan.

“Iya…”

Ayahnya menatap laut.
“Ini adalah kelebihan keluarga kita. Atau mungkin kutukan. Kita bisa mendengar keluhan… bahkan arwah yang telah meninggal.”

“Sejak kapan?” tanya Caspian.

“Ayah juga tidak tahu pasti. Kata nenekmu, dahulu seseorang—mungkin kakek buyutmu—mendapatkan anugerah atau kutukan ini. Sejak itu, keturunan kita bisa mendengar mereka.”

“Dan Ayah sudah lelah mendengarnya,” lanjut ibunya pelan. “Entah bagaimana, Ibu juga bisa.”

“Apa yang mereka inginkan?” tanya Caspian.

“Ayah tidak pernah cukup berani untuk bertanya.”

Caspian menelan ludah.
“Bolehkah aku bertanya?”

Ayahnya menatapnya lama, lalu mengangguk.
“Boleh.”

Caspian melangkah mendekati air.

“Wahai laut… apa maumu?”

Ombak bergulung pelan. Di antara gemericiknya, Caspian melihat bayangan orang-orang gelisah—wajah-wajah tanpa suara.

“Kau ingin aku membantu mereka?”

Tiba-tiba ombak mengguyur tubuhnya, seolah menjawab—

Ya.